
Bencana Hidrometeorologi di Sumatra dan Peringatan untuk Jawa Barat
Jumlah korban tewas akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat meningkat menjadi 164 orang. Korban tersebar di beberapa kabupaten dan kota di wilayah tersebut. Sebanyak 79 orang masih hilang dan 12 orang lainnya mengalami luka-luka. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa jumlah korban mungkin akan bertambah karena ada beberapa titik yang belum bisa ditembus.
Bencana hidrometeorologi ini terjadi sejak Senin 24 November 2025, akibat cuaca ekstrem. Kondisi ini juga menjadi peringatan bagi Provinsi Jawa Barat yang memiliki potensi bencana serupa, terlebih saat ini hingga Februari merupakan puncak musim hujan. Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat menjelaskan bahwa kejadian ini menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan antara seluruh BPBD kota/kabupaten se-Jabar di Kabupaten Pangandaran. Melalui pertemuan tersebut, pihaknya menyamakan kesepahaman bersama agar meningkatkan kesiapsiagaan.
"Kami telah menerbitkan SK siaga bencana dan dalam pertemuan ini merupakan tindak lanjut ke kota kabupaten," ucap dia pada Jumat 28 November 2025. Dengan adanya cuaca ekstrem saat ini dan peningkatan status menjadi siaga, kata Hadi, maka respons cepat diperlukan. Potensi cuaca ekstrem sudah dirasakan di beberapa wilayah seperti di Cilacap bahkan tiga provinsi di Sumatra yang jadi peringatan atau warning untuk warga Jabar.
"Kami membuat kesepakatan terkait langkah pemantauan situasi terkini mitigasi dan koordinasi antarwilayah," ungkapnya. Hadi menjelaskan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun telah menginformasikan secara real time potensi cuaca ekstrem dan informasi tersebut telah didesiminasi kepada kota/kabupaten agar langkah yang dilakukan efektif.
"Respons lebih ditingkatkan dan kordinasi tingkat wilayah karena bencana terjadi bisa di perbatasan wilayah lain," ucapnya. Untuk daerah yang berpotensi banjir bandang dan longsor terjadi di kawasan Jabar selatan. Di kawasan Jabar utara pun, banjir tetap perlu diwaspadai, yaitu banjir darat.
"Ini harus disikapi oleh kota/kabupaten hingga ke level desa. Minggu ini, mungkin hujan tidak terjadi, tapi minggu depan siapa tahu," ucapnya.
Pengaruh Siklon Tropis di Jawa Barat
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu menyampaikan, pengaruh langsung dan tak langsung Siklon Tropis Senyar maupun Koto, tak signifikan terhadap cuaca di Jawa Barat. Kendati demikian, pihaknya mengajak masyarakat, pemerintah daerah, maupun instansi dengan tugas dan fungsi berkenaan dengan mitigasi dan penanggulangan bencana agar senantiasa waspada atas potensi hidrometeorologis.
"Hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat dalam skala lokal, serta angin kencang dapat mengakibatkan dampak berupa banjir di wilayah dataran rendah dan dekat aliran sungai, longsor pada wilayah dengan topografi bergunung, atau pohon tumbang. Selain itu, mewaspadai reklame, atau benda lain berisiko roboh saat angin berembus kencang," ucap Teguh Rahayu, Jumat 28 November 2025.
Dia menyampaikan, pada umumnya, cuaca di wilayah Jawa Barat diprakirakan cerah berawan dengan potensi intensitas ringan hingga lebat sepanjang satu pekan ke depan. Potensi hujan dapat disertai petir dan angin kencang. Hal tersebut berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilistik model.
Pada 1 Desember 2025, terdapat potensi hujan intensitas lebat di Kabupaten Sumedang, Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan. Pada 2 Desember 2025, ada potensi hujan lebat di Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan.
"Pada 3 Desember 2025, diharapkan terdapat potensi hujan lebat di Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Bogor, Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan," ucap Rahayu.
Perihal cuaca di Bandung Raya, Rahayu menyampaikan, masih terdapat pengaruh lokal yang mendukung potensi pertumbuhan awan konvektif. Pengaruh itu, yakni kelembapan udara yang lembap pada lapisan 850 mb dan 700 mb, di antara 50-90%.
Langkah Mitigasi Bencana di Bandung
Merespons hal itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna telah menerbitkan dan menyebarluaskan Surat Edaran Nomor 400.9.10./008/3524/BPBD tentang Mitigasi Bencana Dampak Hidrometeorologi. Surat edaran itu memuat langkah-langkah mitigasi struktural maupun non-struktural lintas organisasi perangkat daerah.
Sebagai gambaran, arahan Dadang Supriatna bagi tiap-tiap kecamatan, perlu memastikan kesiapan aparatur wilayah dan meningkatkan kesiapsiagaan dan terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Arahan bagi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), di antaranya perlu ikut serta mengawasi pembangunan di daerah rawan longsor dan bantaran sungai, juga menyiapkan sumber daya reaksi cepat untuk penanganan bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung Didi Ruswandi mengimbau masyarakat agar waspada terhadap potensi bencana akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, genangan, maupun kerusakan infrastruktur. BPBD Kota Bandung juga membuka call center di nomor 081234696905.
"Sampai November itu, banjir ada 44 kejadian, longsor ada 49 kejadian termasuk longsor pada kirmir sungai, lalu puting beliung ada 3 kejadian, berarti total ada 96 kejadian bencana. Sekarang itu sedang dominan bencana hidrometeorologi," kata Didi, Jumat 28 November 2025.
Dia pun mengingatkan agar warga berhati-hati terhadap kondisi rumah dan lingkungan sekitar, terutama yang tinggal di daerah rawan bencana. Pasalnya, cuaca ekstrem bukan hanya dapat menimbulkan banjir dan longsor, tapi juga atap roboh, rumah ambruk, hingga pohon tumbang.
Untuk memitigasi bencana banjir, Didi menyampaikan bahwa masyarakat perlu melakukan persiapan. Persiapan itu bisa dilakukan dengan memantau info cuaca dari BMKG, mengenali risiko dan rencana evakuasi, hingga menyiapkan tas siaga bencana.
"Saat banjir terjadi, warga perlu bertindak terutama tindakan untuk menyelamatkan diri. Contohnya bisa dengan mematikan aliran listrik, menghindari area berisiko, dan segera melakukan evakuasi ke tempat aman atau tempat yang lebih tinggi," kata Didi.
Upaya Mitigasi di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat
Menghadapi potensi bencana di musim hujan, Pemerintah Kota Cimahi menetapkan siaga bencana geohidrometeorologi. Berbagai upaya mitigasi bencana dilakukan, termasuk penetapan rencana kontingensi bencana sebagai acuan kesiapsiagaan dan meminimalkan dampak negatif bencana.
"Penetapan status siaga bencana geohidrometeorologi sudah ditetapkan. Kita harus siap sedia menghadapi cuaca yang tidak menentu, bicara bencana bukan masalah kuratif, tapi mitigasi sebagai alat mempersiapkan diri menghadapi bencana," ujar Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira, Jumat 28 November 2025.
Adhitia mengatakan, Pemkot Cimahi menjadikan rencana kontijensi bencana sebagai acuan penanganan bencana. "Untuk bencana geohidrometeorologi Kota Cimahi sudah punya rencana kontingensi, jadi kalau terjadi bencana SOP-nya sudah lengkap dan bak. Penetapan status siaga bencana geohidrometeorologi juga memungkinkan BPBD maupun OPD teknis lain di Kota Cimahi langsung bergerak apabila terjadi bencana," katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan menambahkan, status siaga bencana geohidrometeorologi Kota Cimahi berlangsung mulai 1 November-akhir Februari 2026.
"Untuk musim hujan puncaknya akan berlangsung di bulan Januari 2026, hal ini yang jadi salah satu pertimbangan perpanjangan status siaga bencana geohidrimeteorologi hingga Februari 2026," katanya.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat meningkatkan kewaspadaannya menyusul bencana alam yang melanda wilayah Sumatra. Sejumlah upaya pun dilakukan untuk mengantisipasi bencana alam akibat kondisi cuaca buruk di KBB.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah KBB Asep Sehabudin mengatakan, seluruh desa di KBB masuk kategori rawan potensi bencana, terutama longsor, banjir bandang dan pergerakan tanah. Wilayah paling rawan berada di kawasan selatan KBB. Wilayah ini rentan dilanda banjir bandang, longsor dan pergerakan tanah. Pergerakan tanah bahkan sudah terjadi di wilayah selatan, seperti Desa Situwangi, Kecamatan Cihampelas, Desa Cinengah, Desa Sukamah, dan Desa Cibedug.
"Kalau untuk antisipasi potensi bencana tersebut, BPBD dan relawan Destana serta desa dan kecamatan mengadakan peningkatan kewaspadaan seluruh warga masyarakat," ujarnya saat dihubungi, Jumat 28 November 2025.