
Konflik politik tidak selalu membawa dampak negatif. Di tengah suasana konflik, sering muncul langkah-langkah yang bertujuan untuk mencari solusi. Dalam situasi seperti ini, terkadang muncul "berkah politik" yang bisa memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Fenomena yang umum terjadi adalah munculnya solidaritas internal yang semakin kuat.
Contoh nyata dari fenomena ini adalah Candi Plaosan. Menurut penulis, Candi Plaosan merupakan "berkah politik" yang lahir dari konflik antara elit bangsa dan pendukungnya (kubu mereka) pada Abad IX Masehi. Berkah ini muncul akibat adanya "manajemen konflik" yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan Mataram Kuna saat itu. Dengan kata lain, Candi Plaosan adalah peradaban besar yang lahir dari praktik manajemen konflik yang dilakukan oleh para elit Mataram Kuna di Abad IX Masehi.
Mengenal Kemegahan dan Kemewahan Arsitektur Candi Plaosan
Candi Plaosan adalah candi Buddha yang besar, megah, dan mewah. Lokasinya berdekatan dengan Candi Sewu, hanya berjarak sekitar 500 meter. Jaraknya juga tidak jauh dari Candi Prambanan, yang legendaris dengan julukan Candi Loro Jonggrang.
Kemegahan Candi Plaosan dapat dilihat dari luas area yang digunakan dalam pembangunan candi serta ratusan jumlah bangunan candi yang ada. Megah dan mewahnya juga terlihat dari jejak arsitektur dan bentuk bangunan candi, serta relief yang masih terpahat di kaki dan badan candi.
Arsitektur Candi Plaosan secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kelompok Candi Plaosan Lor (utara) dan Kelompok Candi Plaosan Kidul (selatan). Keduanya merupakan kompleks candi, sehingga terdapat candi induk dan candi perwara. Namun, kompleks Candi Plaosan Lor lebih besar dibandingkan Candi Plaosan Kidul.
Secara administratif, kedua kompleks candi ini berada di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Saat ini, kedua kompleks dipisahkan oleh jalan desa, namun jarak antara keduanya hanya beberapa puluh meter. Secara visual, kemegahan Candi Plaosan dapat dilihat melalui sketsa berikut:
Berdasarkan sketsa tersebut, dapat diketahui bahwa Candi Plaosan Lor saat ini berada di tengah persawahan, sedangkan Candi Plaosan Kidul berdekatan dengan pemukiman penduduk. Kedua kompleks candi dipisahkan oleh jalan desa yang membentang dari barat ke timur.
Dari data yang ada, Candi Plaosan dikelilingi oleh parit berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 440 m x 270 m dan lebar parit sekitar 10 m. Data ini menjadi bukti bahwa Candi Plaosan merupakan kompleks percandian Budha yang besar.
1) Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor memiliki dua pintu masuk menuju candi utama (induk). Di depan setiap pintu masuk terdapat arca Dwarapala masing-masing berjumlah dua. Candi induk terdiri dari dua bangunan.
Bangunan tersebut memiliki postur yang sama baik dari segi luas, tinggi, maupun modelnya. Inilah keunikan Candi Plaosan. Kedua candi induk ini dianggap sebagai simbolisasi sosok Rakai Pikatan dan Pramodyawardani (dua pewaris kekuasaan yang memiliki perbedaan kepentingan politik dan agama) yang menyatu dalam relasi kekuasaan dan cinta.
Di Candi Plaosan Lor, terdapat dua candi utama yang dikelilingi oleh pagar batu. Masing-masing candi dikelilingi oleh 174 candi perwara, yang terdiri atas 58 candi kecil dengan denah dasar persegi dan 116 bangunan stupa. Tujuh (7) candi berbaris di masing-masing sisi utara dan selatan setiap candi utama, 19 candi berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama.
Di antara candi-candi perwara tersebut terdapat prasasti berupa tulisan-tulisan pendek yang menyebutkan nama para penyumbang atau pemberi hadiah. Beberapa prasasti tersebut antara lain menyebutkan: darma sri maharaja, asthupa sri maharaja rakai Pikatan, anumoda sang kalungwarak pu daksa, dan anamoda sang da pankur Pu Agam.
Bangunan candi utama berdiri di atas kaki candi setinggi sekitar 60 cm tanpa selasar yang mengelilingi tubuhnya. Tangga menuju pintu dilengkapi dengan pipi tangga yang memiliki hiasan kepala naga di pangkalnya. Pada bingkai pintu dihiasi pahatan yang bermotif bunga dan sulur-suluran. Hiasan kala tanpa rahang bawah berada di ambang pintu.
Sepanjang dinding luar tubuh kedua candi utama dihiasi oleh relief yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Menariknya lagi, juga terdapat relief pada dinding candi yang di selatan menggambarkan laki-laki, sedangkan pada candi yang di utara menggambarkan perempuan.
Terdapat satu komponen bangunan di kompleks bangunan Candi Plaosan Lor yaitu "mandapa". Kondisi sekarang hanya berupa batur. Di atas batur terdapat beberapa arca Budha dengan berbagai sikap. Konon fungsinya adalah untuk persiapan ritual dan sebagai pendadaran para siswa tentang agama Budha. Hadirnya bangunan ini juga menambah jumlah keunikan Candi Plaosan.
Beberapa keunikan Candi Plaosan yang bisa dijelaskan antara lain:
a) Ada dua kompleks candi yang berdekatan (Plaosan Lor dan Plaosan Kidul),
b) Candi Plaosan Lor mempunyai dua candi induk yang bentuknya sama,
c) Candi perwara yang mengelilingi ada yang berbentuk perwara stupa,
d) Terdapat bangunan "mandapa",
e) Terdapat bukti para pejabat Mataram Kuna memberikan hadiah bangunan (stupa),
f) Candi Plaosan menghadap ke barat, padahal candi-candi yang lain menghadap ke timur.
Fakta inilah yang menunjukkan kemegahan dan kemewahan Candi Plaosan ditopang oleh semua aparat pemerintahan Mataram Kuna saat itu. Para pejabat tersebut juga terdapat nama-nama yang masuk dalam deretan daftar dinasti Sanjaya, misalnya rakai Pikatan, Daksa, Garung. Tidak kalah menariknya adalah pahatan relief pada kaki, badan candi, relung candi juga nampak halus dan menarik.
Berdasarkan hal tersebut, Candi Plaosan memang dibangun dengan arsitek candi yang handal dan ahli seni relief yang pilihan. Bangunan formasi candi mirip Candi Sewu dan Prambanan. Ketiga candi ini, candi induknya dikelilingi ratusan candi Perwara dalam formasi bersaf-saf. Candi induk berada di tengah. Kemegahan dan kemewahan didukung oleh para pejabat Mataram Kuna.
Berdasarkan paparan di atas, dapat diketahui tentang keunikan sekaligus kemegahan Candi Plosan Lor. Keunikan yang paling menonjol tampak pada candi induk yang berjumlah dua yang kembar. Arsitektur dua candi induk yang mempunyai bentuk sama, menggambarkan adanya "rekonsiliasi politik" dua kekuatan besar yang selalu berkonflik.
Mencermati relief candi induk sebelah utara berbentuk arca-arca wanita, dan candi induk sebelah selatan adanya relief laki-laki, seakan memberikan informasi bersatunya jiwa antara Rake Pikatan dan Pramodyawardani. Model candi induk demikian hanya ditemukan di Candi Plaosan. Jadi selain megah, arsitektur Candi Plaosan menyiratkan adanya kohesi politik, rekonsiliasi sosial, akulturasi budaya, bahkan moderasi di bidang agama.
Secara arsitektur, kemegahannya juga tampak pada bangunan candi induk yang berlantai dua. Sehingga postur bangungan tampak menjulang tinggi. Sekarang relung kedua candi utama tidak boleh dimasuki pengunjung. Di dalam relung candi terdapat beberapa arca Budha.
2) Candi Plaosan Kidul
Latar belakang Candi Plaosan Kidul juga Budha. Letaknya hanya berjarak 100 m dari Candi Plaosan Lor. Keduanya dipisahkan dengan jalan desa yang membujur dari barat ke timur. Pola bangun kompleks Candi Plaosan Kidul sama dengan Candi Plaosan Lor yaitu dengan pola memusat. Hanya saja candi induknya hanya satu. Candi induk juga dikelilingi oleh 85 candi perwara.
Berdasarkan pengamatan, candi induk Palosan Kidul tidak nampak (tidak diketahui postur bangunannya), dan candi perwara hanya beberapa yang sudah berhasil direkonstruksi. Sama seperti Candi Plaosan Lor, perwara-perwara merupakan persembahan para penguasa (pejabat) Mataram saat itu. Ragam hias yang dapat dilihat hanya pada candi perwara dengan bentuk tumbuh-tumbuhan maupun kepala kara tanpa rahang. Bagian atap candi perwara dihiasi stupa tapi mirip lingga. Mungkin ini salah satu bentuk akulturasi Hindu-Budha.
Kilas Balik Sejarah Mataram Kuna
Sebelum menguraikan tentang keberadaan Candi Plaosan sebagai "berkah politik" sebagai hasil manajemen konflik para elit Mataram Kuna, kiranya perlu dipaparkan terlebih dahulu tentang kilas balik sejarah Mataram Kuna sebagai gambaran.
Diakui apa tidak, bahwa menyusun kilas balik sejarah suatu bangsa kuna tidaklah mudah. Masalah yang muncul adalah terbatasnya sumber. Sehingga selalu memunculkan interpretasi yang selalu berbeda. Apalagi yang ditulis adalah sejarah Mataram Kuna yang sudah ribuan tahun usianya. Perdebatan yang selalu menarik misalnya di Jawa Tengah ada satu apa dua dinasti?, Benarkah Rake Panangkaran berpindah memeluk agama Budha, padahal ia adalah anak Sanjaya?, perdebatan nama tokoh yang disebut dalam prasasti, dll. Sampai sekarang selalu menarik untuk diperdebatkan dengan sudut pandangnya masing-masing.
Lepas dari pebedaan sudut pandang yang melahirkan pendapat yang berbeda-beda; yang pasti, Indonesia mempunyai jejak sejarah masa lalu sebagai bangsa yang besar, yang mampu mengukir peradaban bangsa yang adiluhung. Bagi penganut pendapat Jawa Tengah terdapat dua dinasti, terdapat perbandingan silsilah masing-masing dinasti sebagai berikut:
Menurut Baskoro (2013:189) pusat pemerintahan Mataram Kuna ada di Poros Kedu-Prambanan. Berdasar data empiris, poros Kedu berpusat di wilayah Temanggung dan Magelang (sekarang kabupaten). Sebab di kedua wilayah ini terdapat gugusan candi-candi (baik Hindu maupun Budha). Kondisi demikian tentu menjadikan wilayah sekitar kompleks percandian tersebut dipastikan menjadi pusat kegiatan masyarakat baik secara ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik dan agama. Oleh sebab itu, tidak mustahil bahwa pusat pemerintahan tidak jauh dari pusat peradaban yang dibangun.
Berdasarkan peninggalan arkeologis (candi, arca, lingga dan yoni) serta prasasti dari abad VIII M-IX M, penulis mencoba menyusun periode kekuasaan Mataram Kuna sebagai berikut:
1) Periode Magelang I (717 M-746 M) sebagai masa kekuasaan Hindu
Periode ini ditandai dengan peran Sanjaya sebagai wamcakarta (penerus keluarga) yang beragama Hindu. Periode Magelang I didasarkan pada isi prasasti Canggal (732 M). Berdasar isinya dapat diketahui rajanya bernama Sanjaya. Ia adalah anak Sannaha (saudara Sanna). Diceritakan bahwa sebelum Sanjaya berkuasa, Sanna menjadi penguasa di Jawa. Namun ia kalah dalam peperangan melawan musuhnya. Menurut Soekmono (1975:40), raja yang berhasil mengalahkan Sanna adalah Prabu Purbasora dari kerajaan Galuh (Jawa Barat). Sanjaya naik tahta menggantikan Sanna sebagai raja setelah mengalahkan Purbasora. Sanjaya menyebut dirinya sebagai Rake Mataram sang Ratu Sanjaya. Agama yang dianut adalah Hindu. Menurut Dwi Cahyono (2016), pusat pemerintahan Sanna diperkirakan di Temanggung-Wonosobo. Namun setelah Sanjaya naik tahta dipindahkan di wilayah Magelang (tidak jauh dari bangunan candi-candi yang dibuat Sanjaya).
Penulis menyebut masa ini adalah masa Mataram Kuna periode Magelang I. Sebagai argumennya adalah keberadaan prasasti Canggal sebagai bukti tertulisnya, juga temuan jejak arkeologi lain pada periode ini seperti candi Gunung Wukir, candi Losari, candi Selogriyo, dan temuan-temuan lepas yang lain yang ditemukan di kecamatan Salam kabupaten Magelang. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa Magelang pada kisaran waktu 732 M menjadi pusat pemerintahan. Kusen (1985) dengan mendasarkan pada isi prasasti Wanua Tengah (908 M), menjelaskan masa pemerintahan Sanjaya 717 M-746 M.
Uraian di atas menjelaskan bahwa Sanjaya adalah peletak dasar dinasti Sanjaya. Selanjutnya latar belakang yang terjadi adalah peperangan antara Sanna-Purbasora dan Purbasora-Sanjaya. Setelah berhasil mengalahkan Purbasora, Sanjaya naik tahta menggantikan Sanna (pamannya). Pernyataan kemenangannya dituangkan dalam prasasti Canggal dan mendirikan Lingga di Kunjarakunjadesa. Selanjutnya Sanjaya meninggal tahun 746 M. Periode Magelang I tidak diketahui bagaimana kelanjutannya.
2) Periode Prambanan I (752 M-782 M) sebagai Masa Kukuasaan Budha
Periode ini terjadi pada masa pemerintahan Bhanu (...752 M) dan Wisnu (775 M-782 M). Keduanya dari dinasti Sailindra yang beragama Budha. Seperti diketahui, bahwa setelah Sanjaya wafat (746 M) tidak diketahui nasib sejarah Mataram Kuna. Sejarah Mataram Kuna lebih lanjut dapat diketahui dari prasasti Kalasan (778 M). Prasasti Kalasan berisi perintah guru-guru Sailindra kepada Panangkaran untuk membuat bangunan Dewi Tara dan wihara untuk ibadah para pendeta Budha. Selain itu Panangkaran disebut juga dalam prasasti Abayagiri (792 M) yang memerintahkan pembangunan wihara di bukit Ratu Boko. Panangkaran disebut juga dalam prasasti Mantyasih (907 M) dan Wanua Tengah III (908 M) sebagai anak Sanjaya yang beragama Hindu. Prasasti itu dikeluarkan oleh raja Balitung yang beragama Hindu.
Isi prasasti ini menimbulkan perbedaan pendapat para sejarawan. Ada yang berpendapat Panangkaran pindah agama menjadi seorang Budha, sehingga membangun candi-candi yang bercorak Budha. Ada juga yang berpendapat bahwa Panangkaran berada dalam kekuasaan raja-raja dinasti Sailindra (walaupun Panangkaran juga menjadi pelanjut Sanjaya). Menurut penulis, Panangkaran bisa saja tetap memeluk agama Hindu, namun dia mempunyai sikap politik yang moderat (moderasi politik dinasti). Sehingga walaupun dia beragama Hindu, ia mendukung bangunan-bangunan Budha baik candi Kalasan, candi Sari, bahkan Wihara di bukit Ratu Boko (792 M) saat dinasti Sailindra dipimpin oleh Bhanu dan Wisnu.
Dengan asumsi Panangkaran tetap sebagai penerus Sanjaya yang beragama Hindu (746 M-784 M), bisa diduga saat itu Panangkaran menjadi bagian dari kekuasaan dinasti Sailindra masa pemerintahan Bhanu dan Wisnu. Wilayah Kalasan menjadi wilayah kekuasaaannya, sehingga dia yang menghadiahkan dan mengizinkan wilayahnya sebagai tempat dibangunnya candi Kalasan, candi Sari dan Wihara di Bukit Boko.
Mengingat dalam periode 746 M-782 M sudah berdiri candi Kalasan, candi Sari, awal pembangunan candi Sewu, diduga kuat pusat pemerintahan ada di wilayah sekitar Prambanan. Mengutip pendapat Casparis, Baskoro (2013:192) menjelaskan silsilah raja-raja dinasti Sailindra antara lain: Bhanu (752 M), Wisnu (775 M-782 M), Indra (782 M-812 M), Samarotungga (812 M-832 M). Maka, masa kekuasaan Panangkaran bersamaan dengan kekuasaan raja Bhanu (...752 M) dan Wisnu (775 M-782 M) serta Indra (782 M-812 M) pada masa awal pemerintahan. Pada masa pemerintahannya, dinasti Sailindra berhasil mengembangkan sayap di wilayah Prambanan sekitar. Masa ini penulis sebut dengan Periode Prambanan I. Pada masa ini, bangunan-bangunan Hindu tidak nampak (dimungkinkan hanya candi Gebang yang berada di wilayah Sleman sekarang).
Berdasar paparan di atas dapat diketahui bahwa pada periode Prambanan I ditandai dengan bangunan-bangunan suci yang bercirikan Budha. Paparan fakta di atas memunculkan dugaan adanya pengaruh dinasti Sailindra yang kuat pada pertengahan sampai akhir abad VIII M setelah Sanjaya meninggal. Bisa diduga, dinasti Sanjaya berada dalam kekuasaan dinasti Sailindra. Gambaran riilnya adalah isi prasasti Kalasan 778 M yang menegaskan adanya peran penguasa Sailindra terhadap Panangkaran (anak Sanjaya), sehingga mengikuti perintah guru-guru Sailindra untuk membuat candi Kalasan dan candi Sari untuk bangunan Budha, walaupun ia beragama Hindu.
Dengan asumsi demikian, maka periode Prambanan I dapat diduga terjadi konflik "kekuasaan" antara dinasti Sanjaya dan Sailindra yaitu Bhanu dan Wisnu dengan keturunan Sanjaya yaitu Panangkaran. Sampai periode ini, dinasti Sailindra berhasil menguasai dinasti Sanjaya. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil peradaban yang dominan bercorak Budha di wilayah Prambanan sekitar. Candi yang bercorak Hindu di wilayah Prambanan sekitar, baru ada pada abad IX M (Prasasti Siwagra 856 M).
3) Periode Magelang II 812 M-842 M (Masa Kekuasaan Budha)
Periode ini dimulai dari Samaratungga memerintah (812 M-846) sampai Pramodyawardani mengeluarkan prasasti Sri Kahulunan (842 M). Kalau Periode Magelang I ditandai peran poitik Sanjaya (Hindu), maka Periode Magelang II ditandai dengan kekuasaan raja dari dinasti Sailindra. Periode Magelang II, hakikinya merupakan kelanjutan periode Prambanan I. Pusat kekusaaan tidak berpusat di Prambanan sekitar, namun dimungkinkan sudah pindah ke Magelang. Hal ini dibuktikan adanya candi yang sangat mungkin menjadi candi kerajaan masa itu yaitu candi Borobudur, candi Pawon, candi Mendut, candi Ngawen dan situs candi Dipan (1 km dari candi Borobudur). Masa ini penulis sebut sebagai Periode Magelang II. Corak pemerintahannya diwarnai dengan agama Budha.
Pada periode ini peran sejarah dimainkan oleh raja Samarotungga (812 M-832 M). Adapun sumber tertulis yang bisa dijadikan pedoman antara lain: prasasti Karang Tengah (824 M) isinya Samaratungga mendirikan bangunan suci bernama Wenuwana (diduga candi Ngawen). Pada tahun itu juga diduga membuat candi Pawon(?), Mendut, dan candi Borobudur. Berikutnya adalah prasasti Sri Kahulunan (842 M) isinya pemberian sawah untuk pemuliaan nenek moyang di "bhumisambhara" (candi Borobudur). Prasasti ini dikeluarkan oleh Pramodyawardani (anak Samaratungga).
Berdasar isi beberapa prasasti tersebut dapat diketahui tokoh yang berperan dalam peristiwa tahun 812 M-842 M) adalah raja Samarattungga. Raja ini yang memerintah pembangunan candi Ngawen (candi Pawon ?, candi Mendut dan candi Borobudur). Sehingga Pramodyawardani (anak Samaratungga) memerintahkan tentang pemuliaan candi Borobudur melalui prasasti Sri Kahulunan (842 M) atau 18 tahun setelah Samaratungga berkuasa. Sedangkan Pramodyawardani kelak dinikahi oleh Rake Pikatan dari dinasti Sanjaya.
Mengingat candi Borobudur merupakan candi besar (berikut candi Pawon dan Mendut serta Ngawen, bahkan situs Dipan), maka bisa diduga pusat kekuasaan Samaratungga di poros Kedu (Magelang). Dengan demikian, dinasti Sailindra dalam periode 812 M-842 M (periode Magelang II) masih berperan dan menguasai politik di Jawa Tengah. Di sekitar 4 km arah selatan candi Prambanan terdapat beberapa candi Budha antara lain candi Banyunibo, candi Sojiwan, dan situs Budha yang berdekatan dengan candi Barong (Hindu). Candi-candi Budha tersebut diduga dibangun abad IX M, bisa saja masa Samaratungga. Sedangkan candi-candi Hindu yang ada di wilayah Magelang (selain peninggalan Sanjaya), tidak (belum?) ditemukan. Candi-candi Hindu muncul dan berkembang pada masa Kayuwangi (penerus Pikatan). Candi-candi tersebut antara lain candi Pendem, candi Asu, candi Lumbung, candi Umbul, situs Plandi, situs Brongsongan, situs Samberan, situs Candiretno. Dengan demikian diduga kuat periode ini dinasti Sailindra masih berhasil mendominasi secara politik di Poros Kedu-Prambanan, dan Magelang menjadi pusat pemerintahan.
4) Periode Prambanan II 847 M-855 M (Masa Kohesi Politik)
Periode ini terjadi pada masa pemerintahan Rake Pikatan (keturunan dinasti Sanjaya yang beragama Hindu). Periode Prambanan II ditandai dengan adanya kohesi politik dinasti Sanjaya dan Sailindra melalui perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramodyawardani (anak Samaratungga yang beragama Budha). Perkawinan ini ditolak oleh Balaputradewa (saudara laki Pramodyawardani yang beragama Budha), sehingga melakukan pemberontakan. Namun Pikatan berhasil mengalahkan Balaputradewa. Pada periode ini berhasil dibangun candi Plaosan yang bercorak Budha oleh Pramodyawardani yang didukung penuh oleh Rake Pikatan yang beragama Hindu juga beberapa pejabat Mataram Hindu. Dalam waktu relatif bersamaan, candi Prambanan yang bercorak Hindu juga dibangun oleh Pikatan. Bisa saja candi Ijo yang dibangun di atas bukit Ijo (berjarak sekitar 1 km dengan situs Keraton Ratu Boko). Prasasti Siwagra 856 M yang dikeluarkan oleh Kayuwangi (anak Pikatan) menjelaskan bahwa Pikatan mendirikan bangunan candi untuk memuja Siwa (Siwagra). Prasasti ini menegaskan bahwa Pikatan saat berkuasa berhasil membangun candi Siwa (Prambanan).
5) Periode Prambanan III 856 M-885 M (Masa Kekuasaan Hindu)
Masa ini ditandai dengan kekuasaan dinasti Sanjaya. Raja yang berkuasa adalah Kayuwangi (anak Pikatan). Pada masanya sangat mungkin berhasil dibangun candi-candi yang bercorak Hindu yaitu candi Sambisari, candi Kedulan, candi Morangan, candi Ijo, dan candi Barong. Semua candi tersebut merupakan candi kompleks. Candi-candi tersebut dibangun di sekitar candi Prambanan (jarak masining-masing candi sekitar 5 km).
Selain candi-candi Hindu dibangun di wilayah Prambanan, Kayuwangi diduga kuat juga membangun candi-candi Hindu di wilayah Magelang. Candi-candi tersebut antara lain kompleks candi Sengi (candi Pendem, candi Asu, dan candi Lumbung) di wilayah kecamatan Dukun, candi Umbul di kecamatan Grabag, situs Plandi di wilayah kecamatan Mertoyudan, situs Samberan di wilayah kecamatan Tempuran, situs Brongsongan di wilayah kecamatan Borobudur (1 km sebelah barat candi Borobudur), dan situs Candiretno di wilayah kecamatan Secang.
Setelah periode Prambanan III, tidak diketahui secara pasti pusat pemerintahan Mataram Kuna. Yang pasti, pasca periode Prambanan III, percaturan politik masih dimainkan oleh penerus dinasti Sanjaya, sampai Sindok memindahkan ibukota Mataram Kuna ke Jawa Timur pada kurun waktu 911 M. Sebelum Sindok berkuasa, tercatat nama besar penerus dinasti Sanjaya yaitu raja Balitung. Raja ini yang mengeluarkan silsilah dinasti Sanjaya melalui prasasti Mantyasih I (907 M) dan Wanua Tengah III (908 M). Balitung adalah adalah penerus Sanjaya yang mengeluarkan prasasti paling banyak dibanding penerus Sanjaya lainnya. Tercatat ada 33 prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan Yogyakarta.
Pendek kata, pasca periode Prambanan III, kekuasaan dinasti Sailindra sudah tidak muncul lagi secara politik. Sampai Pu Sindok memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur, dinasti Sanjaya masih memainkan peran politik.
Berkah Politik Hasil Manajemen Konflik
Pembangunan Candi Plaosan mempunyai latar belakang yang unik yaitu adanya peristiwa perkawinan antara Rake Pikitan dengan Pramodyawardani. Sekali lagi, perkawinan mereka adalah perkawinan politik. Proses ini menjadi berita viral di jagad Mataram Kuna, sehingga memunculkan reaksi dari Balaputradewa (anak Samaratungga/saudara Pramodyawardani). Rake Pikatan berhasil mengusir Balaputradewa, sehingga melarikan diri ke Sumatra.
Di satu sisi perkawinan politik tersebut merupakan kemenangan secara politik bagi dinasti Sanjaya. Di sisi lain peristiwa tersebut menjadi langkah penyatuan (reintegrasi) dua kekuatan besar di Mataram Kuna yang mempunyai perbedaan visi politik dan label agama yaitu dinasti Sanjaya (Hindu) dengan dinasti Sailindra (Budha). Proses tersebutlah yang melatarbelakangi dibangunnya Candi Plaosan. Oleh sebab itu penulis menyebut, Candi Plaosan adalah "berkah politik" adanya manajemen konflik yang dilakukan oleh elit Mataram Kuna.
Plaosan adalah simbol Rake Pikatan dan Pramodyawardani. Maka Candi Plaosan ada jejak kearifan elit bangsa menata relasi kuasa yang berbeda. Dengan kata lain, Candi Plaosan adalah berkah politik adanya langkah manajemen konflik yang dikembangkan oleh elit Mataram Kuna. Jejak kohesi sosial, politik, budaya dan agama nampak pada arsitektur Candi Plaosan yaitu:
1) Arsitektur Candi Plaosan merupakan perpaduan antara Hindu dan Budha. Ciri Hindu dapat dilihat pada struktur bangunan candi yang menjulang tinggi. Hal ini nampak pada candi induk maupun candi perwara. Sedangkan ciri Budha dapat dilihat pada kaki candi induk yang lebar dan adanya puluhan perwara stupa yang mengelilingi candi induk.
2) Arsitektur 2 bangunan candi induk yang sama (utara untuk tempat beribadah putri, selatan untuk beribadah laki-laki). Sehingga candi induk Candi Plaosan sering disebut candi kembar. Candi induk yang sama tersebut setidaknya menggambarkan bersatunya dua kekuatan (dinasti Sanjaya dan dinasti Sailindra) yang disimbolkan melalui bangunan suci. Tokoh utamanya Rake Pikatan dan Pramodyawardani.
3) Prasasti pendek yang menempel di kedua candi induk dan candi perwara. Prasasti yang menempel di candi induk menyebut nama Pramodyawardani dan Rake Pikatan. Prasasti yang menempel di beberapa candi perwara menjelaskan pemberian (hadiah) dari banyak para pejabat Mataram Kuna (baik yang beragama Hindu maupun Budha). Fakta tersebut mengisyaratkan adanya dukungan penuh adanya penyatuan dua kekuatan politik Mataram Kuna sebagai upaya menekan konflik yang berkelanjutan.
4) Praktik moderasi politik dinasti dan agama. Plaosan Lor dan Kidul, dua candi induk pada Candi Plaosan Lor serta deretan candi perwara maupun ratusan perwara stupa, partisipasi para elit kerajaan Mataram Kuna yang memberikan hadiah berupa candi perwara, adalah bukti adanya moderasi politik dan agama.
5) Simbol penyatuan dua tokoh dinasti yang berbeda politik dan agama. Hal ini bisa dilihat dari dua candi induk yang mempunyai pola bangun yang sama (kembar).
Candi Plaosan adalah bukti kebesaran sejarah masa lalu. Kebesaranya diukir oleh para elit Mataram Kuna yang memandang pentingnya integrasi sosial dalam merawat kebhinekaan yang menjadi fakta sosiologis Mataram Kuna abad VIII M-IX M. Tujuannya adalah mewujudkan keamanan, kemajuan, kesejahteraan, kekuatan masyarakat Mataram Kuna secara menyeluruh tanpa melihat dari label dinastinya. Maka, Candi Plaosan adalah berkah politik akib