
Peran Kelisanan dan Keaksaraan dalam Komunikasi
Kelisanan dan keaksaraan adalah dua aspek penting dalam proses komunikasi manusia. Dalam era modern, keduanya menjadi alat utama untuk menyampaikan informasi, ide, maupun perasaan. Kedua bentuk komunikasi ini tidak hanya memungkinkan interaksi antar manusia, tetapi juga menjadi dasar dari pengembangan budaya, pendidikan, dan bahkan politik.
Menurut definisi KBBI, kelisanan merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan lisan, yaitu ucapan atau kata-kata yang diucapkan melalui mulut. Sementara itu, keaksaraan berkaitan dengan menulis dan huruf. Kedua elemen ini saling melengkapi dan menjadi pondasi utama dalam pembentukan bahasa. Dengan demikian, kelisanan dan keaksaraan tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan abstrak seperti dalam karya sastra.
Karya sastra, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Di Indonesia, tradisi menciptakan karya sastra sudah ada sejak balai pustaka dibentuk oleh Belanda. Seiring perkembangan waktu, karya sastra semakin berkembang dan dapat dinikmati dalam berbagai bentuk, seperti video, film, atau podcast. Hal ini menunjukkan bahwa kelisanan dan keaksaraan terus mengalami modernisasi.
Kelisanan dan Keaksaraan sebagai Senjata Politik
Meskipun kelisanan dan keaksaraan memiliki peran positif dalam masyarakat, mereka juga bisa menjadi senjata yang digunakan oleh para politisi untuk memanipulasi opini publik. Dengan menggunakan retorika dan propaganda, para politisi sering kali memberikan janji-janji manis atau pernyataan yang tampak meyakinkan, meskipun tidak selalu sesuai dengan realitas. Teknik-teknik seperti Fear Based Control (mengontrol dengan ancaman) atau Divide And Conquer (pecah belah) sering digunakan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu penting.
Contoh nyata dari manipulasi ini adalah kasus boikot Trans 7 terkait tayangan Xpose Uncensored. Isu tersebut dianggap melecehkan pesantren dan membuat banyak orang melakukan aksi demo. Namun, setelahnya, terjadi pengalihan isu yang tidak disadari, yaitu keputusan kenaikan dana reses DPR RI yang menuai kontroversi. Hal ini menunjukkan bagaimana isu-isu kecil bisa digunakan untuk mengalihkan fokus masyarakat dari masalah yang lebih besar.
Pengalihan Isu sebagai Teknik Manipulasi
Pengalihan isu merupakan salah satu bentuk manipulasi yang tidak etis. Dalam retorika, teknik ini sering disebut dengan whataboutism, yaitu cara untuk membelokkan fokus dari isu utama ke subjek lain yang tidak relevan. Tujuan dari teknik ini adalah untuk membungkam kritik dan mempertahankan kendali. Dalam dunia politik, pengalihan isu sering digunakan untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kebijakan yang kontroversial atau kinerja yang buruk.
Dengan adanya pengalihan isu, masyarakat cenderung lebih fokus pada isu yang sedang viral daripada pada masalah-masalah yang lebih mendesak. Ini bisa berdampak negatif karena mengurangi kesadaran masyarakat akan isu-isu yang lebih penting.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat
Meskipun pengalihan isu dan manipulasi informasi sering terjadi, masyarakat kini semakin sadar akan hal ini. Dengan meningkatnya literasi dan kesadaran akan media, masyarakat mulai mampu membedakan antara informasi yang benar dan yang tidak. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menghadapi penyebaran informasi yang tidak akurat atau bias.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi media. Dengan demikian, mereka bisa lebih waspada terhadap manipulasi informasi dan tidak mudah terjebak dalam jebakan retorika yang tidak sehat.
Kesimpulan
Kelisanan dan keaksaraan tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bisa menjadi senjata yang sangat berbahaya jika digunakan secara tidak bertanggung jawab. Dalam dunia politik, mereka sering kali digunakan untuk memanipulasi opini publik dan mengalihkan fokus dari isu-isu penting. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi dan kritis terhadap informasi sangat diperlukan agar tidak mudah terpengaruh oleh manipulasi yang tidak sehat.