
Kehidupan Tika dalam Film Pangku yang Menggugah Emosi
Film Pangku (2025), yang disutradarai oleh Reza Rahadian dan diproduksi oleh Gambar Gerak, rumah produksi miliknya bersama Arya Ibrahim, berhasil menarik perhatian penonton dengan sosok Sartika (Tika), tokoh utama yang kompleks dan kontradiktif. Diperankan dengan apik oleh Claresta Taufan, film ini menyajikan sebuah dilema sosial yang sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Di satu sisi, Tika adalah simbol ketangguhan—seorang perempuan yang berjuang keras dan menolak menyerah pada keadaan pahit yang membelenggunya. Namun, di sisi lain, ia memendam harapan yang rentan. Ia mendambakan kehadiran sosok pelindung laki-laki yang akan datang untuk menyelesaikan masalahnya, menggenggam tangannya, dan membawanya pergi dari nestapa. Ironisnya, di akhir cerita, ia harus menghadapi kenyataan yang lebih keras: ia tetap sendirian.
Pengalaman Emosional yang Mendalam
Menonton film Pangku bukan sekadar menikmati tontonan; ini adalah pengalaman yang menguras jiwa. Sepanjang durasi film, semua emosi terasa hadir dan bergejolak. Mulai dari rasa sesak di dada, kesedihan yang menusuk, kemarahan atas ketidakadilan yang Tika terima, hingga kekecewaan pahit ketika harapan-harapan tipisnya terpatahkan. Akhirnya, yang tersisa hanyalah rasa lelah dan terkuras.
Bagi saya pribadi, intensitas emosi ini hadir karena saya melihat sosok Tika seperti melihat gambaran hidup saya selama lima tahun terakhir ini. Perjuangan Tika yang tanpa henti, diselingi harapan palsu akan penyelamat, adalah cerminan dari pergulatan pribadi yang dihadapi banyak perempuan di bawah tekanan sosial.
Kisah Tika bukan lagi fiksi, melainkan sebuah cermin yang jujur. Ini adalah cerminan kondisi perempuan dalam masyarakat patriarki yang telah menginternalisasi narasi penyelamatan oleh laki-laki. Dalam kajian teori feminisme, dilema Tika ini sangat relevan dibedah menggunakan kerangka yang dipopulerkan oleh Naomi Wolf dalam bukunya Fire with Fire (1993) yaitu tentang perdebatan antara Feminisme Korban dan Feminisme Kekuatan. Artikel ini akan mengulas bagaimana Tika bertransisi, atau dipaksa bertransisi, dari mentalitas korban menuju potensi kekuatan, dan mengapa kesendiriannya di akhir adalah kemenangan sinematik yang menyakitkan.
Tika dan Perangkap Feminisme Korban
Feminisme Korban (Victim Feminism) adalah istilah yang digunakan untuk mengkritik perspektif yang cenderung terlalu menekankan penderitaan dan ketidakberdayaan perempuan, sehingga secara tidak sadar memperkuat stereotip perempuan yang rapuh dan perlu diselamatkan. Hal ini seringkali terjadi bukan karena perempuan benar-benar tidak berdaya, melainkan karena sistem patriarki telah membatasi akses mereka ke sumber daya (ekonomi, politik, sosial, bahkan pendidikan) hingga membuat mereka merasa tidak mampu bertindak sebagai agen penuh.
Karakter Tika sangat sesuai dengan kondisi ini. Meskipun ia "berjuang," perjuangan tersebut seolah terbatas pada bertahan hidup sambil menunggu intervensi eksternal. Harapan Tika pada "sosok pelindung laki-laki" adalah manifestasi jelas dari mentalitas korban. Menurut Wolf, ketika perempuan diberitahu bahwa mereka adalah korban, mereka secara implisit diberitahu bahwa kekuatan harus datang dari luar (from without), bukan dari diri mereka (from within).
Pencarian Tika terhadap pelindung menunjukkan internalisasi The Feminine Mystique (Friedan, 1963), di mana perempuan mencari pemenuhan atau keselamatan melalui ketergantungan pada pria. Ketergantungan ini membuat perjuangan Tika terasa ambigu. Ia berjuang untuk bertahan, tetapi ia menyerahkan kekuasaan untuk menyelesaikan masalahnya kepada figur maskulin. Inilah dilema yang dibawa Claresta Taufan melalui peran Tika yaitu perjuangan yang disandera oleh harapan.
Intervensi Sinematik dan Dekonstruksi Ilusi Pelindung
Bagian paling revolusioner dari film Pangku terletak pada penolakannya terhadap formula klise. Sutradara Reza Rahadian dan penulis skenario Felix K. Nesi secara sadar menghindari penyelesaian yang mudah. Pangku secara brutal menolak tropus penyelamatan yang kental dengan bias gender ini, yang secara historis dikritik oleh Teori Film Feminis (Mulvey, 1975), yang menentang representasi perempuan sebagai objek yang pasif dan harus diselamatkan.
Kesendirian Tika di akhir adalah pukulan keras yang disengaja. Ini adalah sebuah dekonstruksi naratif yang efektif. Kegagalan sosok pelindung laki-laki untuk muncul berfungsi sebagai kritik ganda. Pertama, kritik ini ditujukan terhadap Patriarki. Film ini menyoroti kegagalan institusi dan individu laki-laki untuk benar-benar melindungi perempuan.
Kedua, ini adalah kritik tajam terhadap Feminisme Korban yakni ketiadaan pelindung memaksa Tika menghadapi realitas bahwa "obat" yang ia cari dari luar tidak pernah ada. Dengan brutal, film ini memutus rantai ketergantungan dan menjadikannya seorang agen secara paksa. Dengan membiarkan Tika sendiri, fokus cerita dialihkan kembali padanya, bukan pada ketiadaan sang pahlawan, melainkan pada keharusan Tika untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri.
Potensi Kekuatan dari Kesendirian
Kesendirian Tika bukanlah akhir yang tragis, melainkan sebuah katalisator yang mendorongnya menuju Feminisme Kekuatan (Power Feminism). Feminisme Kekuatan menekankan bahwa perempuan harus "menggunakan apa yang sudah kita miliki" dan mengambil tanggung jawab atas kekuasaan pribadi dan politik mereka. Wolf berpendapat bahwa perempuan harus beralih dari posisi menuntut simpati menjadi posisi menuntut pengakuan atas kekuatan yang sudah mereka miliki.
Pada titik ini, Tika tidak lagi berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu orang lain, tetapi ia berjuang karena ia harus. Kesendiriannya adalah pengakuan keras bahwa keselamatan harus ia ciptakan sendiri. Perjuangan "tidak mengalah pada keadaan" Tika kini mendapatkan makna sejati, dilandasi kemandirian mutlak (self-reliance).
Meskipun kesendirian seringkali dipandang sebagai kerugian emosional, dalam kerangka feminis ini, ia menjadi modalitas agensi. Tika dipaksa untuk mengandalkan intuisi, ketahanan, dan kekuatan batinnya sendiri. Film Pangku sukses menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidaklah didapat dari digenggam, melainkan dari kemampuan untuk tetap berdiri tegak meskipun tangan itu kosong.
Sebuah Ajakan dan Pengakuan untuk Tika-Tika Lain
Kisah Tika dalam Pangku adalah peringatan keras bagi kita semua. Film arahan Reza Rahadian ini mendidik penonton perempuan untuk memecahkan cermin Fantasi Pangeran Penyelamat. Resonansi emosi yang kuat, dari sesak hingga terkuras. Hal ini menandakan bahwa narasi Tika ini adalah kenyataan kolektif.
Perjuangan perempuan tidak akan pernah selesai jika ia masih disandera oleh harapan eksternal yang ilusional. Kesendirian Tika adalah pesan yang lugas dan tak terhindarkan, maka sudah saatnya kita merebut agensi kita sepenuhnya. Mari kita tinggalkan mentalitas korban dan sadari bahwa perjuangan yang paling valid dan berdaya adalah perjuangan yang dilakukan dengan kaki sendiri, tanpa menunggu uluran tangan.
Tika dalam dunia nyata sungguh benar-benar ada. Mereka adalah ibu tunggal yang bekerja keras, pekerja profesional yang berjuang melawan diskriminasi, atau perempuan mana pun yang bangkit dari keterpurukan tanpa bantuan pahlawan. Mereka kuat. Kekuatan mereka bukan ditemukan, melainkan diciptakan dari ketiadaan bantuan. Tika kini dipaksa untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Dan itu, bagi feminisme, adalah akhir yang paling jujur, paling kuat, dan paling nyata.