
Pemakaman Kirana yang Menyedihkan
Pemakaman Kirana dihadiri oleh tiga ratus orang. Angka ini terdengar fantastis, meskipun angka itu tidak cukup untuk menggambarkan betapa besar kehilangan yang dirasakan. Kirana pergi meninggalkan dunia ini pada usia dua puluh delapan tahun. Teman-teman SMA datang dengan mata bengkak, sedangkan teman kantor hadir dengan wajah terkejut. Keluarga besarnya datang dengan pertanyaan yang sama, berulang-ulang: "Kenapa? Dia kenapa?" Pertanyaan itu menyelinap di antara mereka, pada bahu-bahu yang terangkat ragu, pada jemari yang saling meremas, pada mata yang terus mencari wajah lain untuk memastikan bahwa kebingungan ini bukan milik sendiri.
Di sudut ruangan, berdiri sebuah banner besar berisi foto Kirana. Senyumnya lebar, matanya berbinar, dengan latar sunset di Bali. Di bawah foto tertulis: "Kirana Salsabila, 1997-2025. A bright light that left us too soon." Bright light. Begitulah semua orang mengenalnya. Apa ada yang tahu bahwa cahaya itu sudah padam sejak lama. Yang mereka lihat hanyalah pantulannya di layar ponsel mereka.
Kehidupan yang Tampak Sempurna
Enam bulan sebelum pemakaman itu, Kirana mengunggah foto di Instagram: dirinya di depan kantor baru, memegang tanda nama karyawan, dengan caption: "New chapter! So grateful for this opportunity. Here's to growth and new adventures! #NewJob #Blessed #CareerGoals." Likes: 2,847. Comments: 312. Semua orang mengucapkan selamat. Semua orang bilang dia inspiratif. Semua orang iri dengan hidupnya yang selalu sempurna.
Apa ada yang tahu bahwa malam sebelum foto itu unggah, Kirana menangis di kamar mandi selama dua jam. Dia baru saja resign dari kantor lamanya karena tidak sanggup lagi. Tekanan serta target yang tidak masuk akal. Lembur sampai tengah malam hampir setiap hari. Dia mengalami serangan kecemasan di toilet kantor sebanyak tiga kali dalam sebulan terakhir.
Kantor baru yang dia posting? Gajinya lebih rendah. Posisinya lebih rendah. Tapi dia tidak punya pilihan lain, dia butuh uang, dan CV-nya harus tetap terlihat bagus. Jadi dia tersenyum di depan kamera, edit foto sampai wajahnya terlihat segar, lalu tulis caption penuh syukur. Karena itulah yang dilihat orang. Karena tidak ada tempat untuk jujur di media sosial itu, kan?
Penampilan yang Selalu Sempurna
Tiga bulan kemudian, Kirana posting foto dirinya di gym, dengan otot yang mulai terbentuk, memegang shaker bottle protein. Caption: "Consistency is key! 6 months transformation. Your body hears everything your mind says, stay positive! #FitnessJourney #HealthyLifestyle #SelfLove." Likes: 3,102. Comments: 289.
"Kak Kirana body goals banget!"
"Gimana caranya kak? Spill dong!"
"Inspirasi banget sih kakak!"
Apa ada yang tahu bahwa Kirana sudah tidak makan nasi selama empat bulan. Apa ada yang tahu bahwa dia muntah setiap kali makan. Apa ada yang tahu bahwa berat badannya turun bukan karena gaya hidup sehat, tapi karena gangguan makan, gangguan pencernaan yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Apa ada yang tahu bahwa dia menghabiskan dua jam setiap malam, menghitung kalori, merasa bersalah atas setiap gigitan, menatap cermin dengan tatapan benci.
Foto itu harus tetap diposting. Karena feeds-nya harus aesthetic. Karena followers-nya harus termotivasi. Karena Kirana harus selalu terlihat sempurna.
Kehidupan yang Tersembunyi
Dua bulan sebelum kematiannya, Kirana posting selfie di kafe favorit, dengan secangkir matcha latte dan buku di atas meja. Senyumnya hangat, rambutnya tertata rapi. Caption: "Sometimes you just need a little me-time. Taking a break to recharge. Remember, self-care is not selfish! #MeTime #SelfCare #GoodVibesOnly." Likes: 2,634. Comments: 198.
"Cantik banget kak!"
"Pengen hidup se-peaceful kakak "
"Self-care queen!"
Apa ada yang tahu bahwa Kirana datang ke kafe itu karena dia tidak tahan sendirian di kosan. Apa ada yang tahu bahwa seminggu sebelumnya, dia mencoba menelan satu blister obat tidur, tapi muntah sebelum sempat menelan semuanya. Apa ada yang tahu bahwa buku yang dia pegang bahkan tidak pernah terbuka, dia hanya menatap kosong ke arah jendela, mencoba mengumpulkan energi untuk tidak menangis di tempat umum. Matcha latte itu bahkan tidak pernah dia sentuh. Hanya sekedar properti untuk foto.
Karena yang Kirana tahu: pengikutnya tidak ingin melihat kesedihan. Pengikutnya ingin melihat hal yang positif saja. Pengikutnya ingin percaya bahwa kehidupan bisa seindah unggahan di media sosial. Jadi dia memberikan itu. Meskipun itu membunuhnya perlahan.
Akhir yang Menyedihkan
Satu minggu sebelum kematiannya, Kirana posting video di Instagram Story: dirinya sedang menari di kamar, dengan lagu upbeat sebagai background. Teks di video: "Dancing through life! Choose joy every single day!" Views: 1,849. Replies: 67.
"Kakak selalu positive ya, salut!"
"Energy-nya menular banget!"
"Pengen dong vibes-nya kayak kakak!"
Apa ada yang tahu bahwa setelah video itu, Kirana duduk di lantai kamar, memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Apa ada yang tahu bahwa dia baru saja mengirim pesan panjang ke sahabatnya, mengatakan dia sudah tidak kuat, sudah tidak sanggup, sudah ingin istirahat untuk selamanya. "Kamu strong kok, Kir. Kamu bisa. Jangan overthinking. Think positive aja!" Dan Kirana tidak membalas pesan itu lagi. Karena dia capek menjelaskan bahwa berpikir positif tidak menyembuhkan depresi. Karena dia capek dibilang berpikir negatif setiap kali dia coba bicara jujur. Karena dia capek hidup di dunia yang hanya mau melihat senyumnya, tapi tidak mau mendengar teriakannya.
Pesan Perpisahan
Satu hari sebelum kepergiannya, Kirana memposting foto. Foto selfie sederhana. Dia tersenyum, senyum itu sudah dia latih selama bertahun-tahun, senyum yang dapat meyakinkan siapapun bahwa dia baik-baik saja. Caption: "Grateful for another day. Life is beautiful. #Alhamdulillah #Blessed #Gratitude." Likes: 3,521. Comments: 412. Semua orang mengucapkan hal-hal yang manis. Semua orang bilang Kirana inspiratif. Semua orang tidak tahu bahwa itu adalah pesan perpisahannya. Enam jam setelah postingan itu, Kirana ditemukan tidak bernyawa di kosannya. Sebuah botol obat ditemukan kosong di samping tempat tidur. Tidak meninggalkan surat. Tidak meninggalkan penjelasan. Hanya sebuah handphone yang masih menyala, menampilkan notifikasi likes dan comments yang terus bertambah.
Pemakaman yang Ramai
Pemakamannya ramai. Semua orang berbicara tentang betapa baiknya Kirana. Betapa cerianya. Betapa sukses dan bahagia hidupnya. "Dia selalu punya aura positif," kata salah satu teman kantornya, sambil menghapus air mata. "Selalu senyum. Aku nggak nyangka... aku bener-bener nggak nyangka, masalah yang dia hadapi seberat ini." "Hidupnya terlihat sempurna-sempurna aja," bisik teman SMA-nya. "Aku sering iri, jujur. Dia punya semuanya." "Dia selalu posting hal-hal positif," kata sepupunya. "Nggak pernah complain. Nggak pernah terlihat sedih."
Dan semua orang bertanya-tanya: kenapa? Dia kenapa? Sayangnya, tidak ada yang bertanya: kenapa kita hanya percaya pada apa yang dia posting, bukan pada apa yang dia rasakan? Sayangnya, tidak ada yang bertanya: kenapa kita membuat dunia di mana orang harus berpura-pura bahagia, bahkan ketika mereka terlihat sekarat dari dalam?