
Pengembangan Penerbangan Seaplane di Indonesia
Salah satu maskapai penerbangan nasional telah membuka rute penerbangan dari Banyuwangi ke Denpasar menggunakan pesawat seaplane. Perkembangan ini sangat menjanjikan, terutama mengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau. Konektivitas antar pulau tidak kalah pentingnya dengan konektivitas antar kota di Indonesia, sehingga penggunaan pesawat seaplane dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan aksesibilitas antar pulau.
Pesawat seaplane dirancang khusus untuk beroperasi di perairan. Terdapat dua jenis utama pesawat seaplane, yaitu floatplane dan flying boat. Pesawat floatplane menggunakan alat apung untuk bergerak di air, sedangkan flying boat memanfaatkan bentuk badan pesawat sebagai daya apung. Beberapa pesawat seaplane, seperti Consolidated PBY Catalina dan HU-16 Albatros, mampu melakukan pergerakan di laut maupun darat, menjadikannya sebagai pesawat amphibious.
Dalam sejarah aviasi, pesawat seaplane atau lebih tepatnya flying boat pernah menjadi pilihan utama untuk perjalanan transatlantik antara Amerika dan Eropa. Salah satu contohnya adalah Boeing B-314 Clipper, yang dikenal dengan kenyamanan dan kemewahan kabinnya pada masa itu. Namun, seiring perkembangan teknologi pesawat terbang, penggunaan pesawat seaplane mulai berkurang karena pesawat konvensional yang beroperasi di darat lebih efisien.
Namun, pesawat seaplane masih memiliki peran penting, terutama di Indonesia yang memiliki banyak pulau. Penerbangan seaplane bisa menjadi alternatif transportasi untuk mencapai pulau-pulau terluar. Di masa kini, perkembangan ini didorong oleh upaya Indonesia dalam menyampaikan presentasi kepada anggota Badan Penerbangan Dunia (ICAO), seperti pada pertemuan di Bangkok pada November 2019.
Indonesia yang memiliki luas lautan yang lebih besar dari daratan membutuhkan sistem transportasi yang efektif untuk menghubungkan pulau-pulau. Saat ini, transportasi laut masih menjadi andalan, tetapi penerbangan seaplane bisa menjadi solusi tambahan. Dengan adanya penerbangan seaplane, maka dibutuhkan juga bandara perairan sebagai tempat operasional pesawat tersebut.
Di Indonesia, keberadaan bandara perairan masih jarang. Menurut situs Kementerian Perhubungan, saat ini hanya ada empat aerodrome yang sudah beroperasi, yaitu di Sumbawa Barat, Pulau Bawah, Pulau Moyo, dan Bandara Kahayan di Kalimantan Tengah. Meskipun ICAO belum menetapkan standar global secara detail, pengoperasian pesawat di bandara perairan harus sesuai aturan yang berlaku, baik untuk kapal maupun pesawat.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bandara perairan antara lain mitigasi bencana seperti kebakaran, serta menjaga kawasan steril dari lalu lintas kapal. Selain itu, bandara perairan juga harus memenuhi standar seperti lebar landasan air minimal 60 meter, kedalaman air minimal 1,8 meter, dan lebar taxi channel minimal 45 meter.
Pengembangan bandara perairan diharapkan mampu mendorong perekonomian di pulau-pulau non utama, termasuk dalam bidang pariwisata. Selain itu, pesawat seaplane juga bisa digunakan untuk misi penyelamatan ketika terjadi bencana alam di wilayah terpencil.
Dari sisi pesawat, saat ini ketersediaan pesawat seaplane masih terbatas. Namun, produsen seperti Regent Craft sedang mengembangkan seaglider bernama Monarch yang mampu mengangkut hingga 50–100 penumpang. Produk lainnya, Viceroy, mampu mengangkut 12 penumpang ditambah 2 kru. Dengan adanya pesawat-pesawat ini, penerbangan seaplane bisa menjadi alternatif yang lebih efisien.
Dalam konteks pariwisata, penerbangan seaplane diharapkan mampu meningkatkan mobilitas wisatawan, terutama dalam aktivitas island hopping. Namun, perlu dipertimbangkan pengelolaan lalu lintas udara di Bali agar tidak terjadi kepadatan yang berlebihan.
Harapan utama dari penerbangan seaplane di Indonesia bukan hanya untuk mendukung pariwisata, tetapi juga untuk membangun konektivitas di wilayah-wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan perbatasan (3TP). Dengan demikian, pesawat seaplane bisa menjadi bagian dari penerbangan perintis yang mampu menghubungkan seluruh wilayah Indonesia.