
Penyesuaian Tarif Jalan Tol Gempol–Pasuruan Mulai 24 November 2025
Pengguna jalan tol Gempol–Pasuruan perlu mempersiapkan diri karena penyesuaian tarif resmi diberlakukan mulai Senin, 24 November 2025 pukul 00.00 WIB. Penetapan kenaikan tarif ini tertuang dalam Keputusan Menteri PUPR Nomor 1160/KPTS/M/2025, dan berlaku untuk seluruh golongan kendaraan melalui sistem transaksi tertutup, yaitu perhitungan tarif berdasarkan gerbang masuk dan keluar.
Dalam struktur tarif terbaru yang mulai berlaku 24 November, terdapat perubahan tarif secara menyeluruh pada semua golongan kendaraan. Penyesuaian yang paling signifikan terjadi pada rute perjalanan terjauh Gempol–Grati. Berikut rincian tarif baru:
- Gol I: Rp48.500 (sebelumnya Rp46.500)
- Gol II: Rp73.000 (sebelumnya Rp70.000)
- Gol III: Rp73.000 (sebelumnya Rp70.000)
- Gol IV: Rp97.000 (sebelumnya Rp93.000)
- Gol V: Rp97.000 (sebelumnya Rp93.000)
Penyesuaian tarif juga berlaku untuk rute lainnya seperti Gempol–Pasuruan, Bangil–Grati, dan Rembang–Pasuruan. Untuk kendaraan Gol I, tarif berkisar Rp9.500–Rp48.500, sementara untuk Gol V berada di kisaran Rp19.000–Rp97.000.
Cara Cek Tarif Tol Terbaru
Pengendara dapat mengakses informasi tarif terkini melalui beberapa layanan resmi: - Website: jmgempas.com - Instagram: @jm.gempas - Call center: 14080 - Aplikasi Travoy (menyediakan info tarif, kondisi lalu lintas, dan layanan darurat)
Dengan diberlakukannya tarif baru mulai Senin dini hari, Jasa Marga mengharapkan pengguna memahami kebijakan ini sebagai langkah peningkatan pelayanan jalan tol secara berkelanjutan.
Penyesuaian Tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar
Sementara itu, PT Bakauheni Terbanggi Besar Toll (BTB) akan memberlakukan tarif baru pada Ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) mulai 27 November 2025 mendatang. Kenaikan tarif ini ditetapkan berdasarkan SK Menteri PUPR Nomor 1066/KPTS/M/2025 serta sesuai amanat UU No. 2 Tahun 2022 Pasal 48 tentang Jalan, yang mengatur bahwa evaluasi dan penyesuaian tarif dilakukan setiap dua tahun sekali.
Direktur Utama BTB, I Wayan Mandia, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif diperlukan untuk memastikan keberlanjutan pemeliharaan infrastruktur dan peningkatan mutu layanan kepada pengguna jalan tol. "Tarif tol ruas Bakter akan disesuaikan sejak 27 November 2025 mendatang. Penyesuaian tarif adalah mandat Undang-Undang. Setiap dua tahun dilakukan penyesuaian untuk memastikan infrastruktur tetap optimal dan layanan kepada pengguna jalan terus meningkat," ujarnya.
Penyesuaian Tarif dan Peningkatan Layanan
Pengamat Ekonomi dari Universitas Bandar Lampung (UBL), Dr. Khairudin, menilai bahwa penyesuaian tarif tol pada dasarnya dapat diterima masyarakat asalkan dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas. Menurutnya, pengguna tol akan merasa wajar terhadap kenaikan tarif jika mereka merasakan manfaat nyata. “Intinya, pengguna jalan harus memperoleh pelayanan yang sebanding. Bila infrastrukturnya makin baik, biasanya kenaikan tarif dapat diterima publik,” ujarnya.
Pihak BTB menyampaikan bahwa sejumlah peningkatan fasilitas telah dilakukan di Ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar, di antaranya beautifikasi jalan dan gerbang tol, perbaikan sarana umum, peningkatan aspek keamanan, serta penyediaan rest area yang lebih representatif dan nyaman bagi pengguna.
Tak hanya itu, pengelola juga rutin menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), penanaman pohon, serta kampanye keselamatan berkendara seperti sosialisasi ODOL, antisipasi microsleep, dan Operasi Simpatik.
BTB juga mengimbau pengguna jalan untuk tetap mengutamakan keselamatan, termasuk tidak meninggalkan barang berharga di rest area, memeriksa kondisi kendaraan sebelum perjalanan, berkendara dalam kondisi fit, serta mematuhi batas kecepatan maksimal 100 km/jam.
Teknologi Baru untuk Transaksi Tol Nirsentuh
Terjebak macet di gerbang tol memang jadi pengalaman yang bikin kesal, terutama saat jam padat atau musim mudik. Namun, kini pengendara bisa bernapas lega karena hadirnya teknologi baru yang lebih cepat dan efisien: sistem Single Lane Free Flow (SLFF) berbasis Radio Frequency Identification (RFID).
Dengan sistem ini, pembayaran tol bisa dilakukan tanpa harus berhenti atau menempelkan kartu e-toll, sehingga perjalanan menjadi lebih lancar, praktis, dan bebas antre. Era baru transaksi tol nirsentuh ini siap membawa pengalaman berkendara yang lebih modern dan nyaman bagi pengguna jalan tol di Indonesia.
Sejumlah ruas jalan tol di Indonesia sudah mulai menerapkan sistem ini, lho! Dengan sistem ini, kendaraan cukup melaju tanpa perlu berhenti atau tapping kartu di gerbang tol. Gerbang akan terbuka otomatis berkat sensor yang membaca stiker RFID yang ditempel di kendaraan.
Ada banyak manfaat yang langsung terasa bagi pengendara: - Cepat, karena gate terbuka otomatis saat kendaraan melintas - Tanpa antre, karena tidak perlu waktu tambahan untuk tapping kartu - Praktis, tidak perlu buka kaca jendela untuk transaksi - Simpel, hanya perlu stiker RFID dan aplikasi pendukung
Agar bisa melintas di gerbang tol tanpa henti, kendaraan harus sudah terpasang stiker RFID. Tanpa stiker ini, sistem tidak akan bisa membaca kendaraan dan transaksi otomatis tidak dapat dilakukan.
Cara Mendapatkan Stiker RFID
Stiker RFID bisa didapatkan dengan mudah melalui fitur Self Order di aplikasi Let It Flo yang dikembangkan oleh PT Jasa Marga. Berikut langkah-langkahnya: 1. Unduh aplikasi Let It Flo 2. Masuk ke menu Home, lalu pilih fitur Order Tag 3. Pilih golongan kendaraan, merek, dan model kendaraan 4. Masukkan foto kendaraan dengan pelat nomor yang terlihat jelas 5. Pilih lokasi Fitment Center untuk pemasangan stiker RFID 6. Tentukan tanggal kedatangan 7. Pilih jam kedatangan sesuai kuota yang masih tersedia 8. Klik Submit, lalu lakukan pembayaran menggunakan metode QRIS
Setelah itu, kamu tinggal datang sesuai jadwal ke lokasi pemasangan yang dipilih untuk dipasang stiker RFID.
Pembangunan Rest Area di Tol Getaci
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin gegabah dalam melanjutkan pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci), termasuk dalam penentuan lokasi rest area yang kini banyak ditunggu publik. Menurutnya, pembangunan fasilitas istirahat di ruas tol terpanjang di Indonesia ini harus dilakukan dengan matang dan tetap mengacu pada aturan resmi agar hasilnya optimal dan bermanfaat bagi pengguna jalan.
Sebagaimana tercantum di laman bpjt.pu.go.id, pembangunan rest area di jalan tol diatur melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 10/PRT/M/2018. Regulasi ini mengatur segala hal mulai dari lokasi, fasilitas wajib, hingga standar keselamatan dan kenyamanan rest area.
Dengan demikian, proses pembangunan rest area Tol Getaci tidak hanya sekadar proyek pendukung, melainkan bagian penting dari upaya menghadirkan infrastruktur jalan tol yang modern, tertata, dan berorientasi pada keselamatan pengguna jalan.
Tipe Rest Area di Tol Getaci
Berdasarkan Permen PU tersebut maka ada 3 tipe rest area dengan ketentuan sebagai berikut: - Rest Area Tipe A: - Disediakan minimal 1 Rest Area setiap 50 Km untuk setiap jurusan. - Rest Area Tipe A berjarak minimal 20 Km dengan Rest Area Tipe A berikutnya. - Rest Area Tipe A berjarak minimal 10 Km dengan Rest Area Tipe B. - Fasilitas: toilet, ATM center, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU, bengkel, klinik kesehatan, minimarket, kios, mushola, ruang terbuka hijau, restoran, tempat parkir. - Rest Area Tipe B: - Rest Area Tipe B berada di Jalan Tol antar kota yang memiliki panjang jalan tol lebih dari 30 Km. - Rest Area Tipe B berjarak minimal 10 Km dengan Rest Area Tipe B berikutnya. - Fasilitas: toilet, ATM center, minimarket, kios, mushola, ruang terbuka hijau, restoran, tempat parkir. - Rest Area Tipe C: - Rest Area Tipe C berjarak 2 Km dengan Rest Area Tipe A, Tipe B serta sesama Tipe C. - Area Tipe C hanya dioperasikan pada masa libur panjang, periode lebaran/natal dan tahun baru. - Fasilitas: toilet, kios atau warung, tempat parkir yang bersifat sementara.
Lokasi Potensial Rest Area Tol Getaci
Hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai rencana pembangunan lokasi rest area di Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci). Namun, sejumlah sumber independen mulai memunculkan dugaan lokasi potensialnya. Mengutip kanal YouTube Khanifa Channel, salah satu calon rest area Tol Getaci disebut akan dibangun di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Sementara itu, berdasarkan penelusuran YouTube Kang Tamim, ditemukan adanya patok-patok yang terpasang cukup jauh dari batas sisi tol, tepatnya di Kampung Gorowek, Desa Mekarlaksana, dan Kampung Waru, Desa Ciluluk, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung.
Patok yang dipasang di luar garis batas tersebut diduga merupakan penanda awal area calon rest area. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah Kadungora akan menjadi lokasi Rest Area Tipe A dan Cikancung sebagai Rest Area Tipe B, atau justru sebaliknya. Ada pula kemungkinan bahwa Kadungora akan menjadi rest area pertama di jalur Gedebage–Cilacap, sedangkan Cikancung menjadi rest area terakhir di arah sebaliknya, atau konfigurasi tersebut bisa saja dibalik tergantung hasil perencanaan final pemerintah dan pengelola jalan tol.
Strategi Pembiayaan Proyek Tol Getaci
Diberitakan sebelumnya, Menanggapi sorotan publik terhadap rencana pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci), Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan bahwa saat ini proyek tersebut telah memasuki tahap persiapan pembangunan. Dalam keterangannya yang dikutip dari Antara, Selasa (11/11/2025), Dody menjelaskan bahwa proyek Tol Getaci akan menggunakan skema pembiayaan multi-years, sehingga pelaksanaannya dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa terhenti meskipun terjadi pergantian tahun anggaran.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru dalam melaksanakan pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci). “Kita tidak mau terlalu buru-buru, karena kalau terburu-buru biasanya desainnya jadi kurang bagus,” ujar Dody saat menghadiri apel siaga bencana di Kantor Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Bandung, Jawa Barat, Senin (4/11/2025).
Meski proyek ini sempat dianggap kurang diminati investor dan dicap sebagai proyek infrastruktur berbiaya tinggi, Dody tetap optimistis pembangunan Tol Getaci akan terus berjalan dan tidak berhenti di tengah jalan.
Strategi untuk Menarik Minat Investor
Menjelang lelang ulang pada 2026, pemerintah telah menyiapkan tiga strategi utama untuk menarik minat investor agar proyek tol terpanjang di Indonesia ini dapat segera terealisasi.
1. Masuk dalam Daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025
Langkah pertama yang dinilai krusial adalah menetapkan Tol Getaci sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025. Status PSN memberikan jaminan kepastian hukum dan dukungan penuh dari pemerintah, baik dari sisi pembiayaan, percepatan perizinan, hingga pengelolaan risiko. Dengan begitu, beban finansial yang ditanggung oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menjadi lebih ringan.
Selain itu, proses perizinan dan non-perizinan dapat diselesaikan lebih cepat, sehingga memangkas birokrasi panjang yang kerap menghambat jadwal konstruksi. Masuknya proyek Tol Getaci dalam daftar PSN juga membawa keuntungan besar bagi investor, terutama dalam hal percepatan pembebasan lahan, yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama dalam proyek infrastruktur besar.
Dengan dukungan pemerintah, diharapkan isu pembebasan lahan dapat diselesaikan tepat waktu dan tidak lagi menjadi hambatan utama dalam proses pembangunan.
2. Pembangunan Bertahap
Sebelumnya, Pemerintah memastikan bahwa pembangunan Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) akan segera dimulai dan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, proyek strategis nasional (PSN) ini akan difokuskan pada pembangunan ruas hingga Tasikmalaya, Jawa Barat. Tol Getaci termasuk dalam daftar 228 proyek strategis nasional yang tercantum dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 mengenai perubahan daftar PSN. Meski proyek ini sudah direncanakan sejak tahun 2020, proses lelangnya beberapa kali mengalami kegagalan.
Kini, proyek tersebut tengah menjalani tahap peninjauan kembali (review) sebelum dilakukan lelang ulang. Pemerintah memutuskan untuk memusatkan pembangunan tahap awal Jalan Tol Getaci hanya sampai Tasikmalaya, bukan langsung menuju Cilacap seperti rencana sebelumnya. Kebijakan ini diambil sebagai upaya menyesuaikan besaran investasi serta meningkatkan daya tarik bagi investor, karena nilai proyek awal dinilai terlalu besar untuk kawasan selatan Jawa Barat.
Kepala Bappeda Jawa Barat, menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan bentuk pengurangan proyek, melainkan merupakan strategi pembangunan bertahap yang telah disusun oleh pemerintah pusat.
3. Konsep Hybrid dan Fasilitas Modern
Proyek ambisius ini digadang-gadang akan menjadi tol terpanjang di Indonesia, dengan total panjang mencapai 206,65 kilometer, membentang melintasi dua provinsi sekaligus, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah. Masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025, Tol Getaci menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah serta mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan selatan Pulau Jawa.
Pembangunan tol ini dijadwalkan dimulai pada tahun 2026, setelah melalui proses lelang dan evaluasi teknis yang ketat untuk menjamin mutu serta keberlanjutan proyek. Dengan beroperasinya Tol Getaci nanti, waktu tempuh Bandung–Cilacap yang sebelumnya mencapai sekitar 8 jam, diperkirakan akan berkurang drastis menjadi hanya 3 hingga 4 jam.
Tol ini mengusung konsep desain hybrid, yang menggabungkan jalur permukaan (at grade), layang (elevated), dan terowongan (tunnel) untuk menyesuaikan kondisi geografis wilayah Priangan Timur yang cukup menantang. Selain mengedepankan aspek teknologi dan efisiensi, proyek ini juga memperhatikan keamanan serta kelestarian lingkungan di sekitar jalur pembangunan.
Pelaksanaannya akan dilakukan dalam dua tahap utama: tahap pertama mencakup ruas Gedebage–Tasikmalaya, sedangkan tahap kedua akan melanjutkan pembangunan hingga ke Cilacap.
Rencana Pembangunan dan Tantangan
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) akan terus dilanjutkan dan ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada tahun 2026. Dody menjelaskan, saat ini persiapan proyek strategis nasional tersebut tengah dilakukan dengan skema pembiayaan multi years, sehingga proses pengerjaannya dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa terhambat oleh pergantian tahun anggaran.
“Prosesnya sejauh ini normal, tidak ada kendala besar. Umumnya memang tantangan utama ada di pembebasan lahan. Target kami tetap, kalau bisa mulai 2026 ya pasti 2026. Tapi semua tetap harus melalui tahapan yang benar,” ujar Dody di Bandung, Selasa (5/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa pembangunan akan dilakukan secara bertahap per segmen, dimulai dari Gedebage hingga Tasikmalaya, lalu dilanjutkan ke Cilacap pada tahap berikutnya. Dody juga menegaskan, pengerjaan proyek ini tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa demi menjaga mutu konstruksi.
“Kita tidak ingin terburu-buru, karena kalau terlalu cepat biasanya ada kompromi di kualitas desain,” katanya.
Sebagaimana tercantum dalam rencana induk transportasi nasional, Jalan Tol Getaci nantinya akan terhubung hingga Yogyakarta. Saat ini, pembangunan dilakukan bertahap, dimulai dengan Tol Gedebage–Ciamis, yang akan menjadi bagian awal jaringan utama Getaci. Tol tersebut juga akan terkoneksi dengan jaringan Tol Yogyakarta–NYIA Kulonprogo–Solo, sehingga memperkuat akses transportasi di wilayah selatan Pulau Jawa.
Sebagai informasi, Tol Getaci termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Selain itu, dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2021, proyek ini juga disebut sebagai infrastruktur prioritas untuk mendorong percepatan pembangunan kawasan Jawa Barat bagian selatan.