Tiga Budayawan Berdialog di Karangkamulyan, Angkat Kearifan Lokal dan Lingkungan

Erlita Irmania
0
Tiga Budayawan Berdialog di Karangkamulyan, Angkat Kearifan Lokal dan Lingkungan

Pameran Foto “Sakakala” Menjadi Ruang Dialog Kebudayaan

Pameran Foto “Sakakala” yang digelar di Pendopo Wretikandayun, Situs Budaya Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, terus menjadi ruang dialog kebudayaan yang kaya akan makna. Salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan ini adalah temu wicara yang menghadirkan sejumlah tokoh lintas disiplin, mulai dari budayawan, akademisi, hingga pelaku kebudayaan daerah.

Temu wicara tersebut berlangsung pada Kamis, 25 Desember 2025, dan menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Budayawan Budi Dalton, Penulis sekaligus Dosen Bode Riswandi, serta Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, H. Yat Rospia Brata. Diskusi ini semakin hidup dengan penampilan musik dari Andi Blues yang membawa nuansa reflektif di tengah dialog kebudayaan.

Kesadaran Kolektif Masyarakat Terhadap Wilayah Sunda

Dalam paparannya, Budayawan Budi Dalton menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap kondisi geografis dan kekayaan alam wilayah Sunda, termasuk Ciamis. Ia menyampaikan bahwa pembahasan teknis terkait regulasi dan tata kelola sering kali mendominasi, namun yang tidak kalah penting adalah mengingatkan kembali masyarakat tentang posisi wilayahnya yang rawan bencana sekaligus kaya sumber daya alam.

“Kita tinggal di wilayah dengan tingkat potensi bencana yang tinggi, salah satunya karena berada di kawasan gunung berapi. Di sisi lain, wilayah ini juga sangat menarik bagi kepentingan kapital karena kekayaan alamnya, bukan hanya hutan, tapi juga mineral dan sumber daya lain,” ujarnya.

Ia menilai, masyarakat kerap tidak menyadari bahwa tanah tempat mereka berpijak merupakan kekayaan besar yang bernilai tinggi. Oleh karena itu, kesadaran tersebut harus dibangun agar masyarakat mampu menjaga alam tanpa harus selalu diperintah atau diawasi.

Keberhargaan Kejar Lokal dan Mitos Leluhur

Budi Dalton juga menyoroti bagaimana kearifan lokal dan mitos leluhur sejatinya berfungsi sebagai sistem mitigasi bencana tradisional. Menurutnya, pada masa lalu, fenomena alam tidak selalu dipandang sebagai bencana, melainkan sebagai siklus yang dapat diantisipasi melalui pemahaman lokal, termasuk melalui mitos dan larangan adat.

“Pesan-pesan leluhur itu sering dibungkus dalam bentuk mitos. Tantangannya sekarang adalah bagaimana membuka makna di balik mitos tersebut. Ada metodologi tertentu, salah satunya Panca Curiga, untuk memahami apa yang sebenarnya dititipkan oleh para sepuh,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah teks dan narasi lama yang kerap disalahpahami hanya sebagai cerita mistis, padahal di dalamnya tersimpan petunjuk tentang tata kelola alam, bentang geografis, hingga jalur kekayaan sumber daya. Jika tidak dipahami dengan pendekatan yang tepat, nilai-nilai luhur tersebut akan terus dianggap sekadar mitos.

Lebih lanjut, Budi Dalton menekankan pentingnya membangun kembali ikatan kultural dalam upaya pelestarian lingkungan. Ia menilai pesan-pesan modern sering kali tidak efektif karena tidak memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.

“Larangan adat seperti pamali justru lebih ditaati karena ada ikatan kultural, meskipun orang tidak selalu paham maknanya. Itu yang perlu dihidupkan kembali,” katanya.

Bencana Alami sebagai Masalah Kemanusiaan

Sementara itu, Penulis sekaligus Dosen, Bode Riswandi, memaparkan diskusi dari perspektif kearifan lokal yang dikaitkan dengan isu-isu ekologis global. Ia menegaskan bahwa bencana alam tidak bisa lagi dipandang sebagai peristiwa lokal semata, melainkan sebagai persoalan kemanusiaan yang melibatkan campur tangan manusia.

“Bencana hari ini tidak bisa dilepaskan dari ulah manusia. Banyak peristiwa yang terjadi bukan semata-mata karena alam, tetapi akibat dari ketidakseimbangan relasi manusia dengan lingkungannya,” ujarnya.

Menurut Bode, mitos dan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur pada dasarnya merupakan sarana komunikasi untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Ketika keseimbangan itu rusak, maka yang muncul adalah bencana.

Ia menekankan perlunya membangun kesadaran kolektif lintas sektor, mulai dari politik, ekonomi, hingga kebudayaan, agar alam tidak terus dijadikan objek eksploitasi kelompok tertentu.

“Politik harus menjadi politik yang berkebudayaan, menapak ke bumi, bukan sekadar jargon. Bencana tidak boleh hanya dijadikan pelajaran, tapi harus disikapi secara serius,” tegasnya.

Dalam konteks kebudayaan dan kesusastraan, Bode mendorong agar nilai-nilai kearifan lokal yang menghargai alam kembali dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki karakter yang berbeda dan membutuhkan fondasi nilai yang kuat agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

Ruang Refleksi untuk Membaca Fenomena Kekinian

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, H. Yat Rospia Brata, menyampaikan, temu wicara ini merupakan bagian integral dari rangkaian Pameran Foto Sakakala yang digelar oleh LKBN Antara. Setelah pameran foto dan pergelaran seni budaya seperti helaran, lais, dan debus, diskusi menjadi ruang refleksi untuk membaca fenomena kekinian melalui sudut pandang budaya.

“Diskusi ini membahas sejauh mana budaya dapat memberikan referensi dalam menyikapi fenomena bencana dan persoalan lingkungan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa para leluhur Sunda sejatinya telah mewariskan berbagai rambu-rambu dalam bentuk naskah, prasasti, dan aturan adat terkait tata kelola alam. Namun, banyak di antaranya kini diabaikan karena dianggap kuno.

“Konsep seperti patanjala, lebung larangan, lebung tutupan, dan lebung baladahan itu adalah sistem pengelolaan lingkungan yang sangat kaya. Sayangnya, sekarang sering ditinggalkan,” jelasnya.

Menurut Yat Rospia Brata, gerakan kembali ke alam atau "back to nature" sejatinya bukan hal baru, karena sudah lama diajarkan oleh leluhur Sunda melalui berbagai naskah dan tradisi, termasuk dalam warugan lemah dan lontar-lontar kuno.

Ia menegaskan, hubungan antara budaya Sunda dan pelestarian lingkungan sangat erat, mencakup cara memperlakukan tanah, air, hutan, dan tumbuhan secara bijaksana, tanpa semata-mata didorong kepentingan ekonomi.

“Budaya mengajarkan keseimbangan. Jangan sampai demi kepentingan tertentu, kita mengorbankan alam dan akhirnya merugikan diri kita sendiri,” pungkasnya.

Temu wicara ini menjadi penegas bahwa Pameran Foto Sakakala tidak hanya menghadirkan visual sejarah dan budaya, tetapi juga membuka ruang dialog kritis untuk merefleksikan hubungan manusia, budaya, dan alam sebagai fondasi peradaban masa kini dan masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default