Polemik Gapura Gedung Sate: Rp 3,9 Miliar vs. Rp 156 Juta untuk Pelestarian Budaya

Erlita Irmania
0
Polemik Gapura Gedung Sate: Rp 3,9 Miliar vs. Rp 156 Juta untuk Pelestarian Budaya

Perdebatan Mengenai Renovasi Gapura Gedung Sate

Renovasi Gapura Gedung Sate yang dibiayai sebesar Rp 3,9 miliar menimbulkan banyak perdebatan di kalangan masyarakat. Proyek ini menjadi sorotan karena besarnya anggaran dan desain bangunan yang dipertanyakan. Gedung Sate, yang merupakan simbol kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, memiliki sejarah panjang. Bangunan ini mulai dibangun pada tahun 1920 dan selesai pada tahun 1924 selama masa pemerintahan Hindia Belanda. Tujuan awalnya adalah sebagai kantor pemerintahan Belanda, terutama untuk Departemen Pekerjaan Umum dan Pengairan.

Nama "Gedung Sate" berasal dari ornamen tusuk sate yang unik di puncak menaranya. Saat ini, Gedung Sate menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Pada November 2025, saat gapura Gedung Sate direnovasi, muncul berbagai kritikan dari berbagai pihak, termasuk DPRD Jawa Barat. Salah satu kritikan yang muncul adalah mengenai desain gapura yang mirip dengan Candi Bentar.

Candi Bentar adalah jenis gapura khas dari arsitektur Jawa dan Bali yang terdiri dari dua bangunan serupa dan simetris yang berdiri berhadapan tanpa atap penghubung di bagian atas. Fungsi gapura ini adalah sebagai pintu masuk pembatas antara ruang luar dengan ruang dalam area seperti pura, istana, atau kompleks bangunan tradisional. Selain soal desain, biaya renovasi juga menjadi sorotan. Anggaran besar ini membuat DPRD Jawa Barat membandingkannya dengan perbaikan fasilitas publik dan perawatan cagar budaya Sunda.

Kritik Terhadap Anggaran dan Prioritas

Anggota DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, menyampaikan kekecewaannya terhadap alokasi anggaran. Ia menyoroti kontras antara pemotongan gaji pegawai dan pengeluaran besar untuk proyek gapura. Menurutnya, anggaran belanja mengalami banyak pemotongan, termasuk gaji pegawai, namun pemerintah daerah justru menghabiskan anggaran fantastis untuk pembangunan gapura.

Yusuf juga membandingkan alokasi anggaran tersebut dengan pelestarian situs kebudayaan asli Sunda di Jawa Barat. Ia menyatakan bahwa anggaran untuk pelestarian lebih dari 50 situs kebudayaan hanya mendapat Rp156 juta pada 2026, sedangkan proyek gapura menghabiskan Rp3,9 miliar. Ia menilai bahwa pelestarian situs cagar budaya lebih penting daripada pembuatan bangunan baru, meskipun tujuannya adalah menampilkan simbol-simbol Sunda.

Selain itu, Yusuf mempertanyakan dasar pemilihan Candi Bentar sebagai desain gapura. Menurutnya, bentuk gapura tidak memiliki keterkaitan dengan identitas budaya Sunda. Ia menyatakan bahwa Candi Bentar sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kasundaan.

Penjelasan Gubernur Jawa Barat

Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, memberikan penjelasan mengenai proyek ini. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube miliknya, Dedi menjelaskan bahwa desain gapura bukanlah ide pribadinya. Sebelum dibangun, arsitek melakukan riset dan merancang desain melalui proses Detail Engineering Design (DED). Ia menegaskan bahwa anggaran renovasi berasal dari efisiensi berbagai pos anggaran, termasuk biaya perjalanan dinas dan pengadaan seragam gubernur.

Sigit, arsitek ITB, membenarkan penjelasan Dedi dan menambahkan bahwa Gedung Sate dibangun dengan perpaduan berbagai kebudayaan. Menurutnya, Pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu menggabungkan unsur arsitektur Eropa dengan budaya Nusantara, termasuk Sunda. Meskipun demikian, mayoritas masyarakat hanya melihat Gedung Sate sebagai bangunan bergaya Eropa.

Desain dan Teknik Konstruksi

Sigit menjelaskan bahwa gaya arsitektur candi pada jendela menjadi inspirasi pembuatan gerbang baru Gedung Sate. Ia menegaskan bahwa gapura tersebut bukanlah Candi Bentar khas Majapahit atau Demak karena bentuknya tidak terbelah dua. Gapura Gedung Sate dibuat menyatu, meniru bentuk jendela tengah bangunan itu sendiri.

Dedi Mulyadi memahami bahwa pembangunan gerbang ini bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia menyatakan bahwa elemen-elemen Gedung Sate dibawa ke bagian paling luar kawasan bangunan tersebut. Ia juga mengkritik kebiasaan sebagian warganet yang tampak alergi terhadap budaya sendiri.

Gapura ini dibangun menggunakan bata produksi Madura karena membutuhkan bentuk khusus. Tanpa semen, bangunan ini tetap kokoh karena menggunakan teknik pengunci seperti pada pembangunan Candi Jiwa di Indramayu dan Candi Cangkuang di Garut. Sigit menambahkan bahwa nantinya gapura tersebut akan dicat putih agar serasi dengan bangunan utama Gedung Sate.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default