Perubahan Alur Sungai Mengancam Permukiman Warga
Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu telah mengubah alur sungai dan mengancam permukiman warga di kawasan Tabing Kampung Koto, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Perubahan tersebut menyebabkan tanah di bawah rumah-rumah warga semakin tergerus, sehingga sejumlah bangunan terancam hanyut.
Rumah-Rumah Terancam Hanyut
Belasan rumah warga di kawasan tersebut kini terancam hanyut akibat derasnya aliran Sungai Batang Kuranji. Banjir bandang pada akhir November 2025 lalu mengubah alur sungai yang sebelumnya berjarak cukup jauh dari permukiman. Kini, aliran sungai justru semakin mendekati rumah-rumah warga dan terus menggerus tanah di sekitarnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa sedikitnya dua unit rumah berada dalam kondisi paling mengkhawatirkan. Jarak antara rumah dengan bibir sungai hanya sekitar satu hingga tiga meter. Struktur tanah di bawah bangunan tampak tidak rata dan terus terkikis arus sungai. Salah satu rumah diketahui telah dikosongkan oleh pemiliknya, sementara satu rumah lainnya masih dihuni oleh satu keluarga meski berada dalam kondisi rawan.
Warga Mulai Kosongkan Rumah
Rumah milik Juli, salah seorang warga setempat, yang sebelumnya dihuni oleh orang tuanya kini telah dikosongkan. Seluruh barang-barang berharga sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Meski demikian, Juli mengaku masih terus memantau kondisi rumahnya dari kejauhan. Ia merasa sedih karena dari dulu ia tinggal di sini, namun kini rumahnya terancam seperti ini. Ia takut rumah ini tiba-tiba rubuh dan hanyut.
Juli berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan rumah warga dari ancaman abrasi sungai. “Kami sangat memohon bantuan pemerintah. Kalau belum bisa membangun pondasi penahan, setidaknya aliran sungainya bisa diarahkan agar tidak terus menggerus ke sini,” tambahnya.
Ada yang Terpaksa Bertahan
Tidak semua warga bisa pergi. Onang memilih bertahan di rumahnya yang berjarak sekitar tiga meter dari bibir Sungai Batang Kuranji, Padang. Bukan karena merasa aman, melainkan karena tak ada pilihan lain bagi keluarganya. Onang adalah satu dari belasan warga di kawasan tersebut yang terancam hanyut akibat derasnya aliran Sungai Batang Kuranji.
“Mau bagaimana lagi, kami terpaksa bertahan di sini karena tidak ada tempat lain,” ujarnya. Ancaman banjir membuat rasa tenang sulit datang. Suara deras aliran sungai kerap mengganggu waktu istirahat, terutama ketika hujan turun. Dalam kondisi tertentu, Onang memilih mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, menunggu air kembali surut.
Onang mengingat, sejak era 1990-an, pemerintah pernah menyampaikan rencana pengendalian banjir di kawasan tersebut. Wacana itu hadir jauh sebelum rumahnya berada di posisi paling rentan seperti sekarang. Namun hingga hari ini, rencana itu belum terwujud.
“Dulu, waktu saya masih remaja, pemerintah pernah berjanji akan membuat pengendalian banjir. Sampai sekarang saya sudah tua, belum juga ada. Sekarang rumah saya pun sudah hampir rubuh,” katanya. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah antisipasi agar aliran Batang Kuranji tak kembali menghanyutkan rumahnya, maupun rumah-rumah warga lain yang bertahan di tepi sungai.
Air Sungai Meluap
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji meluap menyebabkan ratusan warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terpaksa mengungsi akibat banjir susulan, Jumat (2/1/2026). Pantauan menunjukkan hujan lebat masih mengguyur kawasan tersebut. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa masih merendam pemukiman warga.
Perumahan Griya Kubu Tama diketahui berada tidak jauh dari aliran Sungai Batang Kuranji, dengan jarak sekitar 100 hingga 200 meter. Sejumlah warga tampak mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil memantau kondisi rumah mereka dari pos ronda yang posisinya lebih tinggi dari kawasan perumahan.
Salah seorang warga, Nelmawati (40), mengatakan hujan mulai turun sejak Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Dua jam kemudian, air mulai masuk ke kawasan perumahan dan terus meningkat hingga Jumat pagi. “Sejak tadi malam setelah salat Isya hujan mulai lebat. Sekitar pukul 22.00 WIB air mulai naik. Sampai sekarang hujan belum reda dan air juga terus bertambah,” ujarnya.
Menurut Nelmawati, sedikitnya lebih dari 40 rumah di perumahan tersebut terdampak banjir. Namun, warga telah melakukan evakuasi mandiri lebih awal karena banjir kerap berulang terjadi di kawasan itu. “Alhamdulillah semua warga aman. Karena banjir sudah sering terjadi, masyarakat sudah stand by. Begitu air naik, langsung mengungsi ke tempat aman,” katanya.
Nelmawati juga menjelaskan, pasca banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, aliran Sungai Batang Kuranji dipenuhi lumpur dan sedimen. Kondisi tersebut menyebabkan sungai mudah meluap meski hujan hanya turun selama beberapa jam. Selain itu, posisi perumahan yang lebih rendah dan hampir sejajar dengan permukaan sungai turut memperparah dampak banjir. Kiriman air dari drainase di kawasan yang lebih tinggi juga mengalir ke permukiman warga.
“Posisi perumahan ini memang lebih rendah. Air dari bagian atas semuanya mengalir ke sini, ditambah posisi sungai hampir sama tinggi dengan perumahan, jadi banjir gampang terjadi,” jelasnya.
