
Perjalanan Wisata di Kota Malang
Kota Malang menjadi kampung halaman yang sering dikunjungi sejak tahun 2007. Saat itu, anak sulungku diterima kuliah di Universitas Brawijaya dan tiga tahun kemudian adiknya menyusul juga masuk ke universitas yang sama. Sejak saat itu, aku sering berkunjung ke Kota Malang. Karena sering mengunjungi kota ini, aku merasa ikut menjadi saksi perubahan dan perkembangan pariwisata di sana.
Selain Minangkabau, Malang merupakan tempat yang sering aku eksplor destinasi wisatanya. Mulai dari wisata alam, wisata heritage dan sejarah, hingga wisata edukasi dan kegiatan yang berhubungan dengan kepariwisataan pasti aku kunjungi. Salah satu event yang tidak pernah ketinggalan untuk aku kunjungi adalah Malang Tempo Doeloe.
Di awal-awal tahun, aku bolak-balik ke Malang, hampir 20 tahun yang lalu. Pada masa itu, perjalanan wisata perlu direncanakan dengan baik, menetapkan obyek wisata yang ingin didatangi, menghitung waktu tempuh, biaya, dan banyak pertimbangan lainnya. Karena pada masa itu target jalan-jalanku adalah mengunjungi candi-candi. Candi-candi tersebut bukan hanya berlokasi di Malang Raya, tapi juga ada yang di Sidoarjo, Mojokerto, Blitar.
Perjalanan wisata sejarah diselingi dengan perjalanan wisata alam. Ngunjungi pantai-pantai indah, air terjun, dan lain-lain merupakan sesuatu yang mengasyikkan meskipun perjalanannya melelahkan karena jalan menuju pantai-pantai itu tidak semulus sekarang. Walaupun secara jarak termasuk tidak terlalu jauh dari Kota Malang, tapi waktu tempuhnya bisa tiga kali lipat lamanya, jadi dalam satu hari aku cuma bisa mengunjungi satu pantai.
Sekarang sudah lebih bagus, dari jalur Pansela kita sudah bisa melihat pantai yang saling sambung menyambung. Kabupaten Malang punya banyak spot pantai indah, tapi sampai saat ini belum semuanya sempat aku kunjungi, ada yang terkendala fisik juga sih. Candi juga begitu, masih ada daftar candi yang belum dicoret karena belum dilihat.
Perubahan Kunjungan Wisata
Sejak beberapa tahun terakhir, kunjungan wisataku mulai berubah. Aku lebih banyak mengeksplor yang ada di Kota Malang, sesekali masih juga ke candi dan mengunjungi masjid bersejarah atau masjid terindah di luar Kota Malang. Wisata di dalam kota menarik juga, ada banyak tempat yang bisa jadi destinasi wisata.
Sekarang yang lagi ngehits adalah Kampung Kayoetangan Heritage. Sebelumnya ada kampung warna-warni Jodipan yang viral duluan, ada kampung putih dan masih ada lagi kampung tematik yang jadi destinasi wisata. Terus terang destinasi wisata ini sempat luput olehku, karena aku masih punya banyak daftar candi, pantai, museum, masjid yang mau kudatangi.
Aku mulai terusik untuk pengen tau lebih banyak tentang Kajoetangan Heritage karena alasan sederhana aja, hanya gara-gara satu tulisan: "Kayoetangan Heritage" yang kebaca sekilas di bundaran Jalan Basuki Rahmat. Penyebab kedua, karena melihat suasana malam di Kawasan kayutangan yang menurutku gemerlap, ramai dan meriah, jadi aku langsung memutuskan "besok pagi harus datengin tempat ini".
Pengalaman Mengunjungi Kampung Kayoetangan
Keesokannya aku beneran mengunjungi Kampung Kayutangan ini dan bahkan saking pengen dapetin vibenya secara utuh, aku sampai mengunjungi lokasi ini dalam 3 hari berturut-turut, sekali di siang hari, sekali malam hari dan sekali lagi di pagi hari sekalian mau jalan pagi dan sarapan.
Untuk masuk ke kampung wisata ini sebenarnya bisa diakses melalui beberapa pintu dimana seluruh pintu itu dihiasi gapura yang sama. Akses via Jalan Arief Rahman Hakim (AR. Hakim), Akses via koridor Basuki Rahmat, via Jalan Semeru.
Kunjungan pertama, aku bersengaja akan menyusuri kampung heritage ini dan masuk melalui pintu masuk di Gang Taloen, gerbang pertama yang terlihat. Baru jalan sebentar, langkahku langsung terhenti. Di sebelah kanan ada satu rumah yang berubah fungsi jadi galeri. Ini yang menahan Langkah kaki. Satu rumah ini full terisi barang-barang antik, barang masa lalu yang pastinya menyimpan beragam kenangan, sangat beralasan kalau pak Iing pemilik galeri ini menempelkan tulisan penuh makna "TOKO KENANGAN".
Cukup lama aku di tempat ini, sambil ngobrol dengan pemilik Galeri Omah Lor, aku menikmati vibe rumah jaman aku kecil dulu. Ada koleksi piringan hitam, radio, tape recorder dan ada beraneka tustel. Oya, ada yang pernah dengar kata itu nggak? Aku sering lho disebut kuno gegara masih nyebut kamera dengan kata yang diambil dari bahasa Belanda, fototoestel. Ternyata pak Iing sebelumnya pernah berprofesi sebagai fotografer keliling, pantes aja koleksi kameranya banyak ya. Aku salut sama keuletannya ngumpulin aneka barang antik yang memenuhi galerinya, dia bahkan sampai berburu ke beberapa tempat di Jakarta.
Eksplorasi dan Pengalaman Lain
Setelah cukup lama menikmati galeri yang juga membawa ingatanku ke kenangan masa lalu, aku melanjutkan heritage walking tour dengan terlebih dulu membayar tiket masuk Rp 5.000/orang. Sebagai tanda masuk, kita akan menerima tiket masuk berupa postcard dengan warna pudar kekuningan untuk mendukung vibe tempo doeloenya. Ide ini perlu dikasih acungan jempol sih. Kebaca niat seriusnya mengelola kampung tematik ini.
Lewat dari loket, aku mulai menyusuri gang yang kiri dan kanannya adalah rumah penduduk yang sebagian besar punya fungsi lain selain sebagai rumah tinggal, jadi kita masih bisa menemukan aktivitas kehidupan sehari-hari, masih aku liat ibu-ibu berdaster menyapu halaman, ada juga yang sudah sibuk malayani pengunjung menikmati makanan di warung rumahan, yang ngopi, makan gorengan, duduk santai sambil ngobrol juga ada. Masih ada yang jemur makanan (nasi yang dikeringkan kayanya) di halaman depan rumah, memanfaatkan sinar matahari langsung.
Jadi, ini nuansa kehidupan bermasyarakatnya nggak hilang hanya karena tempat mereka dijadikan tempat wisata. Aku yang pernah tinggal di kampung dengan gang yang saling terhubung jadi serasa ditarik kembali ke tempat tinggal dulu, tempat penuh jasa dan kenangan.
Kesan pertama yang muncul di benakku adalah masyarakatnya pasti kompak mendukung lingkungan tempat mereka tinggal menjadi tempat wisata yang bakal sering didatengin banyak orang, banyak rumah-rumah mereka yang dijadikan galeri, warung dan warung makan/kafe.
Lingkungan yang bersih juga bisa menunjukkan peran komunitas dalam menjaga destinasi wisata ini senantiasa bersih. Sebagai wisatawan, ini termasuk faktor yang menentukan kesimpulan hasil kunjungan. Kita semua pasti menyukai tempat yang bersih kan?
Sebagai destinasi wisata, kampung ini juga dilengkapi dengan toilet umum, tapi terus terang aku nggak memanfaatkannya kemarin, jadi nggak bisa menceritakannya disini. Sebagai pengunjung kita juga diajak secara tidak langsung untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan, dan ini wajib sih menurutku. Makanya di beberapa tempat kita akan mendapati tempat Sampah, ayo dimanfaatkan dengan baik.
Semakin masuk ke dalam, ternyata banyak juga tempat yang memaksa kaki berhenti. Epic Vintage ini misalnya. Tempat jual/beli barang jadul, begitu tertulis di papan nama yang eye-catching. Meskipun aku bukan termasuk kolektor barang jadul, tetapi tempat-tempat seperti ini seringkali menarik minatku, aku selalu tertarik dengan proses yang mereka lalui, perjalanan panjang, mahal. Cerita dibelakang itu membuat tempat ini jadi bernilai. Bagi bro/sist yang mau berburu barang lama, sekarang nggak selalu harus ke pasar loak ya, ke Kayutangan aja sambil jalan-jalan.
Oya, Di rumahku, aku punya satu lemari kaca kecil yang isinya barang jadul juga, ada handphone, kamera, jam tangan bahkan ballpoin hasil koleksiku saat jadi dokter 35 tahun lalu. Tadinya mau mulai disingkirkan, tapi ngeliat galeri di Kayutangan niat jadi berubah deh.
Perjalanan hari pertama baru bisa dijalanin dari pintu masuk Gang Taloen sampe ke ujung yang nembus ke jalan raya, terus balik lagi ke posisi tempat mobil di parkir, lumayan juga lah untuk aku yang jalannya aja dibantu tongkat dan harus sering diselingi istirahat. Supaya nggak nampak kali kelelahannya, modus istirahat sering disamarkan dengan kegiatan ngambil foto, jeprat-jepret. Dan berpose untuk jadi obyek foto. Duduk di tempat yang kebetulan bagus juga untuk berfoto ria.